Tuesday, 16 January 2018

Jangan Dibikin Ruwet!


Menyederhanakan suatu masalah  ternyata tak sederhana.
Bahkan sesuatu yang kelihatan sederhana mungkin banyak usaha agar mencapai keadaan seperti itu.


Enak kalau ketemu dengan orang yang pas. Bisa memandang masalah sebagai tantangan untuk menyederhanakan, baru cari solusi. Kalau nggak? Malah kita dikira mau menyepelekan masalah. Apalagi masalahnya menyangkut beberapa person. Muaakin ruaamee!

Hanya orang yang memahami masalah yang mampu menyederhanakan. Setelah itu baru melakukan perencanaan penyelesaian.
Sebaliknya, orang berpola pikir rumit, njelimet,  bakal susah cari solusi.

Contohnya, astronot USA pernah kelimpungan waktu mau tulis laporan karna pulpen kena pengaruh gravitasi.
Jutaan dollar dikeluarkan demi menghasilkan pulpen anti gravitasi.

Lalu apa yang dilakukan astronot Rusia? Cukup bawa pinsil saja!
Ini yang dibilang, kita perlu men-Simplify pola pikir kita.
Apa yang muncul dari otak akan jadi sugesti dan mendorong niat.
Nggak semua masalah perlu analisa panjang dan perhitungan matang.

Yakin bahwa semua masalah bisa disederhanakan. Jangan maksa otak.
Allah nggak membebani kita dengan masalah di luar kemampun.

Di Quran ada surah "Melapangkan dada" (Al insyirah)...."Beserta kesulitan ada kemudahan" Allah menyebutnya 2x.
Jaminan yang bikin kita tenang, kan?

Sederhana itu mudah dan murah
Cuma restoran Padang saja yang namanya SEDERHANA tapi harganya ?hmmm...!!

Yusiru wa laa tu'asiru
Permudahlah, jangan dipersulit
Sederhanakanlah, jangan dibikin ruwet!





Saturday, 13 January 2018

Nasehat Spesial Kali Ini


Ibu-ibu sekomplex  tau nikmatnya sambel buatan ibu satu ini.
Pas giliran arisan di rumahnya, pasti rame! Nggak ada PRT atau anak anak yang datang bawa titipan uang.

Sebelum kocok lot, sering ia berbagi resep, tips, atau info resto baru yang maknyuss.
Masih jelas di telinga saya, tawa khas dan cara menyebut nama saya pakai logat kental sunda, ditambahi huruf H dibalakang.

Di acara ahir, seperti  biasa... Berisik suara kantong plastik siap2 bungkus hidangan. Dan, sambel dominan warna  hijau berbau terasi spesial itu sudah jadi inceran ibu-ibu pecinta pedas!

Beberapa kali saya dapat suprise. Dikirimi  nasi kuning komplit dengan lauk dan tentu dengan sambal ngetop  itu.
Saya  mencari-cari, dengan apa membalas kebaikkannya?
Untung, dia suka sekali dengan mangga di depan rumah.
Mangga harum, warna pucat, daging tebal, dan nggak terlalu manis. Orang sini menyebut Mangga Bangkwang. Saya sisihkan yang terbaik setiap musim.

Temu paling sering saat jalan pagi habis subuh. Kelihatan kakinya masih kuat menopang tubuh besarnya.
Setelah saya pindah rumah ke blok lain, makin jarang ketemu.  Apalagi setelah dia keluar masuk Rumah Sakit karna diabetnya.

Bulan lalu kami saling melambai berbatas pagar. Sepertinya sedang berjemur . Duduk  di teras samping, dekat kandang kandang kucing kesayangannya.
Di situ juga ia suka mencuci peralatan masak ukuran jumbo.
Ibu resik, mengutamakan kebersihan dan kesehatan hingga ke wadah-wadah.
Lalu gunakan panas matahari pagi buat pengering.

Rupanya itu hari terahir kami saling bertukar senyum
Dan pagi ini  saya sambut kedatangannya dari pintu ambulance.
Semua berjalan cepat. Saya pakai sarung tangan setelah dapat izin dari pengurus jenazah. Setelah itu pelan2 membersihkan kukunya dengan cutton bud sambil  berulang-ulang membetulkan kafan penutup. Sesekali terdengar isak 2 putrinya yang terus menyabuni.

"Kenapa harus ditutupi terus? Di kampung, jenazah dimandikan dalam keadaan terbuka?" Tanya salah seorang tetangga .

Saya jawab yang saya tahu saja..
"Malaikat di langit menyaksikan semua. Tentu mayit malu kalau nampak aurat"

Waktu saya merapatkan mata dengan doa, putri bungsunya berbisik
"Apa mama masih menunggu seseorang?"

Padahal nggak ada hubungannya sama sekali. Dalam hadis menerangkan, setiap sakarat, manusia melihat ke arah mana ruhnya dibawa"

Langit sedikit mendung, tak bisa lagi tunggu saudara yang masih dalam perjalanan. Pemakaman hanya beberapa ratus meter dari rumah, jadi nggak butuh waktu lama, kifayah sudah tertutup tanah.

Ya Allah..
Singkat betul cerita manusia.
Lahir dengan tangis ...
tertawa...
lalu sunyi!


Tak lelah kita tertawa
Petik dawai angan iringi lagu mimpi
Padahal isyarat mati tertulis di kening

Tarikan nafas berpacu dengan iradat
Tipis jarak  ranjang dan lubang
Namun masih saja lamur
Menangkap kolom kolom cahaya

Masih saja puja puji dunia yang Rasul gambarkan 
seperti anak domba  buta, cacat, hampir sekarat.



Dalam bukunya, Ibnul Qayyim Al-Jauziah menulis sepotong syair yang pernah meneteskan air mata Imam Ahmad


Saat sakratul maut itu datang
Siapakah yang mampu melindungiku?
Aku melihat wajah orang orang
Tidakkah ada di antara mereka yang mau menebusku? 

Petik pesan:

Sebaik baik hamba adalah yang paling banyak manfaat. Tinggalkan jejak baik di bumi. Gunakan dunia sebagai sarana berbuat.
Nggak apa kecil atau sedikit. Jika Allah ridho, semua jadi besar
Puja puji bagiMu ya Rabb,  nasehatMu deras mengalir. Semoga hamba jadi pandai dan selalu ingat warna Nasehat Spesial Kali Ini.


















Friday, 12 January 2018

Bukan Danau Tanpa Pendar



Image result for sentuh air


Telan serapah, kala mata kecewa
Telan kata di lingkar gelak.

Semua gerak di luar kendali
Dinamis, hidup
dalam zikir

Pahit getir hambar,  manis jua
Jika akal masih  bening
Budi jernih tak mengekang


Boleh jadi tak suka
Padahal  tawaran
mengganti gugur syukur
Membayar cinta luput



Boleh jadi benci
Padahal bujukan
berahasia amal
percantik indera

Jari menyentuh deras sungai
Bukan danau tenang tanpa pendar






Friday, 5 January 2018

H a t i m u



Itukah hati yang pernah bersemayam?
Menyatu dalam nafas?

Warna lembut dalam kejernihan
Menari memesona ku dan semesta.
Kanvas sebatas pandang lemah
Diam... miskin warna 

Sayangku
Tetap lurus dalam tatap sang maha
Tumpah ruah doa dalam pialamu
Tersimpan dalam gelap

Berlarilah
Dari mega ke mega, 
Bermain di mahligai restu
Berteman semilir harum rindu

Menebar serangkul kasih
Namun senyum tetap sama
senyum dibalik kain gendongan





*Ah, Mukenaku basah...




















Saturday, 16 December 2017

Menilai Dengan Kaca Mata Sendiri



Satu siang saya sudah berdiri di halaman parkir Chitos. Mall besar yang punya deretan cafe 2 lantai. Mudah memilih makanan mau pun interior sesuai selera.
Teman-teman sepakat pilih Kafe Betawi. Lampu remangnya bikin adem tapi  cukup menerangi daftar menu kerinduan, jajanan langka.
Saya pilih Rujak Mie Juhi!

Sambil tunggu hidangan apa salahnya rapat dimulai?
Tapi teman-teman kelihatan lebih senang ngobrol dulu. Kesian juga sih, mereka benar-benar baru lepas dari penat tugas kantor.

Di tengah ngobrol dan tawa asik, pesanan  keluar, ngebul-ngebul !
Mie Juhi kayaknya bakal tandas cepat saya sikat.  Saya lirik soto dan lain lain pesanan 5 teman, alah mak, harumnyaaaa... Ni musti pada semangat makan.


Kira kira setengah piring  makanan  pindah ke perut, kertas-kertas sudah banyak di meja.
Dokument rencana, pengumpulan dana hingga pembangunan MCK dan renovasi aula Pesantren dhuafa pemulung Bantar Gebang, plus laporan pertanggung jawaban bendahara.

Proyek selanjutnya adalah pemberdayaan ibu-ibu dhuafa bantaran kali Klender.
Dana awal tersedia untuk mereka belajar membuat keset, menuju usaha mandiri.

Rasanya nggak pecaya, mereka yang super sibuk di kantor ini mampu merampungkan proyek aherat ini sesuai jadwal. Lihat angka-angka rupiah seperti memperjelas  bagaimana turunnya pertolongan Allah lewat tangan-tangan yang kesehariannya di ruang AC gedung pencakar langit.

Makanan minuman habis, suasana santai ringan menjeda.
Kami tanda tangani semua lembar penting dilanjut penyerahan sisa dana untuk proyek ahirat selanjutnya. Tepuk tangan penyemangat dan jepretan foto untuk dokument berjalan singkat.
Tetiba semua bisu, tenggelam dalam doa. Bersyukur penuh harap semoga pertanggung jawaban di hadapan Allah akan ringan seperti hari ini.

Waktu Asar turun... Musholla sejuk harum cuma beberapa meter dari kami.
Saya simpan wajah-wajah segar wudhu mereka, begitu ihlas dan tenang.
Saya simpan juga kehangatan penuh optimis dalam jabat tangan sebelum kami masuki pintu pintu tol berlainan arah.

Di parkiran Citos alias Cilandak Town Square, nggak ada lagi endapan tanya ... "Kenapa sih, rapat-rapat harus di Cafe? Bicarakan apa? Biar keren dengan makanan mahal?

Kesibukan kerja, tanggung jawab, kejar waktu, dan lepas penat, perlu strategi untuk membuatnya jadi mudah. Bayangkan mereka datang dari 5 arah mata angin kota Jakarta pada jam macet, lalu menunggu di rumah salah seorang teman di pinggiran Jakarta. Ampuun deh!


Lihat plang hijau bertulis BOGOR, rasanya nggak lama lagi saya sampai di rumah.
Perasaan lega, dan berdoa buat sahabat saya, yang pasti marah kalau disebut namanya. Apalagi kedudukannya di kantor. Hehe, 
Terimakasih, jazakallah khairaan,  sudah mentraktir makan siang.

** Jangan menilai dengan kaca mata sendiri.



















Saturday, 18 November 2017

Kelebihan Cahaya Alami


Cahaya masuk dari jendela menimpa gelas  kesayangan.
Saya termasuk pecinta cahaya natural ketimbang menggunakann lampu meja atau lampu LED. Apalagi lampu continuous  seharga 5,75 juta, nggak deh! Kecuali dapet gratis  :)

Fotographer paling keren bagi saya, hasil fotonya menggugah perasaan, pemandangan dalam negeri tapi seperti di negeri manaaa gitu, cermat pilih  moment dan tentu gambar biasa jadi luar biasa karna kecerdikan memanfaatkan cahaya.



Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.



Foto Mutiah Ohorella.


Kelebihan cahaya natural menghasilkan  warna lebih tajam, anti ribed, dan warna kontras.
Tantangannya, harus peka lihat bagaimana cahaya berinteraksi dengan elemen-elemen dalam frame.
Cahaya mampu membuat objek mudah terlihat, kesan lembut,  atau malah mengaburkan.

Kelemahannya, jatuh cahaya cepat berubah saat matahari beringsut. Tinggalkan saya yang menatap pasrah. Posisi objek yang tadinya bikin saya jatuh cinta dan bersegera ambil kamera, seketika nggak berarti apa apa lagi.


Monday, 6 November 2017

Tentang Rahasia


Lovely key


Seorang murid datang menghampiri Rasulullah lalu bertanya "Aku punya satu rahasia memalukan saat berfikir tentang Allah, sejak itu aku merasa berdosa terus menerus. Apakah Allah mau mengampuniku?"

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Rasul

"Aku tak akan pernah sanggup mengataknnya"

"Allah maha tahu dan pengampun, bila saat itu engkau tidak menyukainya"



Tentang rahasia, Presiden RI pertama pernah menulis...

Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin.
Menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.
(Bung Karno, 1933)


Adik mertua saya badannya kurus kecil usia jelang 80.  Tapi tenaganya luar biasa! Ia masih kuat  kerja berat. Pernah dari pagi sampai sore menyemen dan membaguskan makam kakaknya tanpa sarapan. Makan siang sudah terbiasa minus nasi. Hanya beberapa batang buncis rebus dan tempe goreng.

Saat kami ketemu ia beritahu rahasianya, ia kerap minta pada Allah dengan polos.
"Ya Allah, jangan sampai saya jadi hamba yang senang makan"
Doa yang nggak lazim, kan?


Masih soal rahasia...
Sahabat saya bertemu dengan teman akrabnya yang lama terpisah. Ia abadikan pertemuan itu di instagram bertuliskan...

Teman sejak TK hingga kini. 
Semua aib saya tersimpan olehnya.
Kami bertemu sejenak di Bandara, tertawa sembunyikan air mata
Sahabat itu cerminan jiwa



Mengapa sejak kemarin saya ingin menulis tentang rahasia?
Jawabnya, rahasia.... :)





Thursday, 2 November 2017

Wajah Kemayoran Kini



Foto Mutiah Ohorella.



"Mbak, tumben motret-motret bangunan"  Koment teman FB .
"Di mana saya ada, di situ saya motret,Mbak" Jawab saya.

Kebetulan kemarin  saya dan pak suami ke apertemen kakak ipar di Kemayoran. Wilayah yang menyimpan banyak  kenangan kanak kanak.
Kami susuri  jalan Garuda dan Jalan Haji Ung, nama ayah aktor Benyamin yang jadi tokoh di kampung itu. Di sanalah suami saya lahir.

Dulu, bandara Kemayoran kebanggaan berdiri tegak di sini. Sejak oek..oek sampai tua begini saya baru tahu kalau nama Kemayoran asalnya dari tuan tanah orang Belanda berpangkat Mayor. Ada juga yang bilang karna di situ ada perumahan husus mayor.

Cukup beruntung sempat nikmati 2x penerbangan sebelum pindah ke Bandara Soekarno-Hatta.
Pertama  ke Pulau Dabo ikut bapak ceramah di Perusahaan timah, dan terakhir perjalanan ke Surabaya-Banjarmasin yang jadi pangkal pertemuan 2 hati *Ehem!
Jelang pesawat landing, kelihatan jelas atap rumah seperti kotak korek api jingga. Makin lama makin dekat sampai kelihatan jemuran.
Peraturan bandara pun masih longgar. Petugas keamanan cuma beberapa orang, dan penjual koran diizinkan mangkal dekat parkiran. Paling senang kalau lihat pilot gagah yang biasanya jalan cepat mau berhenti sebentar  beli koran/majalah.


Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.


Ingat bagaimana susahnya tidur malam, karna nggak sabar tunggu subuh. Antar saudara ke bandara itu sesuatu banget! jangankan lihat pesawat, baru dengar deru mesinnya saja sudah bikin kaki gatal ingin cepat keluar mobil. Lalu jejakkan kaki di keset sabut tebal, menanti pintu kaca otomatis terbuka. Hmm...  Udara segar harum menyeruak dari dalam

Kaki panjang Pramugari berseragam oranye ketat, topi silinder dengan  syal warna senada.
Saling lempar guyon tapi tawa tetap sopan.
Sebagian lebih dulu masuk pesawat sebelum penumpang melambaikan tangannya di anak tangga.
Kapan lagi yaa, bisa dadah-dadah lepas kepergian sampai anak tangga terlipat masuk perut pesawat?

Saya nggak sedih ketika pesawat besar itu menelan roda-rodanya. Sebab ada ritual berikutnya yang saya nanti. Nikmati aquarium besar isi aneka bentuk ikan hias laut, dan minum susu coklat di balkon pengantar sambil saksikan pesawat mengecil di lipatan awan.

Image result for bandara kemayoran dulu dan sekarang
                                                               13794867131234745958


Wajah Kemayoran  kini lebih cantik, hijau, teratur dan bersih. Hanya kurang ramah dengan berbarisnya apartemen, lapangan golf, dan hotel. Penjagaan ketat di sana sini.
Bekas landas pacu pesawat jadi jalan raya, mungkin ini jalan aspal terkuat.

Apertemen yang kami tuju ada di antara 49 apartemen yang dirancang dengan konsep mix used. Berpadunya green natural, pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, dan leisure.
Paradigma hunian vertikal yang bukan hunian semata, tapi juga untuk investasi jangka panjang.
Harga minimal 270 juta rupiah untuk mendapatkan ruang studio ukuran 22,14 meter persegi! Seluas kamar tidur saya.

Rencana ke depan akan dibangun wisma atlet dan 50 rusunami dengan 7200 unit.
Entah apa lagi rencana pemerintah yang bakalan bikin tambah pangling.
Semoga masih disisakan sedikiiit saja kenangan yang tersisa.
Warung Ketan Susu di gang sempit Jalan Garuda, warung tenda nasi padang SALERO yang jam 10 pagi sudah habis rendangnya, dan bangunan tua kantor Majalah favoit saya, Gadis dan Femina.

Yang terpenting peninggalan bandara  internasional pertama milik bangsa sejak tahun 1929 ini dirawat dengan baik lalu jadikan obyek wisata sejarah.  Menara ATC (Air Trafic Control) masih ada.  ATC pertama di Asia itu pernah mengawasi frekwensi 100.000 penerbangan pertahunnya meski sudah berbagi dengan Bandara Halim. Kesibukan itu membuat pemerintah ORBA membangun Bandara Soekarno-Hatta.


Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Saturday, 14 October 2017

Pengusaha Muslimah Dari Bogor


Foto Su Rima.

Keinginan terbesar saya, punya penghasilan tanpa banyak meninggalkan rumah, banyak sedekah, bisa berbagi ilmu, urusan rumah kelar, tapi hobby tetap jalan.
Apa mungkin?

Tidak ada yang mustahil. Lihat Nisa Rakhmania. Sosok wanita muslimah yang jadi pilihan Komunitas Blogger mulimah untuk dikunjungi. Salah satu agendanya adalah PEM  (Program Eduvisit Muslimah). Kami diberi kesempatan belajar, gali ilmu dari wanita mandiri yang banyak memberi inspirasi.

Saya dan 2 sahabat lebih dulu hadir karna warga Bogor. 
Rumah produksi tas Etnik yang dikelola Nisa  berpagar tinggi cat hijau sesuai dengan label tas "Heejou", identik dengan Go Green
Tidak sulit mencari karna cuma 50 meter dari terminal Laladon-Bogor.

Begitu masuk sudah kedengaran suara mesin jahit bersahut-sahutan. "Bau Duit" kalau kata orang China yang menganggap rumah kotor, berisik, penuh barang itu bau duit.
Tapi rumah ini bersih. Pekerjanya serius . Tidak ada bicara atau canda sia-sia
Nisa sang owner berbicara pelan saat beri intruksi. 
Senyumnya mengembang ramah tulus begitu menyambut. Hampir salah! Saya kira ia  Blogger juga. 

Jam 10 sudah lewat. Acara sedikit molor dari rencana karna perjalanan rombongan  Jakarta tersendat.

Acara diawali dengan sambutan Founder Blogger Muslimah Mbak Novia Syahidah . Panggilan akrabnya "Uni" karna asal Sumatera Barat. 
Siapa kami dan maksud kunjungan pun diutarakan. Di susul dengan perkenalan masing-masing anggota .
Semua berjalan lancar dan akrab di ruang depan berkarpet dengan suguhan kue has Bogor. Terimakasih Nisa :)
Dan sampailah pada inti acara yang kami nanti. Nisa menceritakan perjalanan usahanya.

Foto Mutiah Ohorella.


AWAL USAHA

Nisa tidak langsung bikin tas. Tapi sebelumnya bergabung dengan teman teman kampus IPB memproduksi boneka Holtikultura. Pemasaran masih di sekitar kampus dan moment tertentu.
Tapi penghasilannya lumayan bagus.

Saya sangat percaya bahwa mempelajari kekurangan dan kesulitan orang lain akan menumbuhkan ide berbisnis. Nisa mengalaminya. Tiap menjaga toko ia perhatikan dosen dan mahasiswa banyak menggunakan kantong plastik belanja untuk membawa dokument. Atau tas bekas seminar yang bagian tulisannya mereka balik ke arah badan.

Ide timbul, semangat juga timbul. Apalagi setelah tahu  salah seorang pelayan toko mahir menjahit.
Dari 10 tas sample (Untuk Display) akhirnya berkembang terus sampai butuh pekerja lebih banyak.

PAHIT MANIS WIRAUSAHA

Foto Mutiah Ohorella.

Sempat kami ngobrol berdua. Lalu terlepaslah kata kata saya tentang produk rumahan yang tengah mandek "Bikin produknya gampang, pemasarannya yang susah!"
Sambil senyum Nisa menjawab lembut, "Jangan katakan susah, nanti Allah benar-benar akan membuatnya susah!"
Nasehat pendeknya sangat membekas. Memang beda yaa, kalau yang bicara sudah mengalami sendiri. Bisa jadi itu salah satu prinsip yang membuatnya sukses.

Memang ia pernah menahan sedih ketika harus berpisah dengan teman-teman pengelola boneka. Pernah alami kerugian ulah distributor ingkar janji. Dan puncaknya ketika tas-tas 1 kamar belum juga terjual. Bagaimana nasib usaha? Bagaimana dapur pekerja?

Tapi hasil tak pernah menghianati usaha. Ihtiar dan sabar selalu berbayar janji Allah. 
Postingan blog tentang produknya menduduki tempat teratas di google. Trans TV memilih Nisa sebagai panutan dalam acara rutin mereka "Bosan Jadi Pegawai" dalam 1 jam tayang.
Kontan si tas "Heejou" dikenal masyarakat luas. Kepercayaan tumbuh dan pesanan bertubi tubi datang. Alhamdulillah... Semangat pun kembali berkorbar  dan makin percaya diri.

Rumah di atas lahan luas itu sudah jadi milik Nisa. Tenaga kerja terus bertambah hingga 17 orang. Meski demikian gadis yang masih memendam cita-cita ingin punya sekolah ini, pembawaannya tetap sederhana, membumi, dan lembut.

TIPS MENJALANKAN USAHA

1. Pencitraan

Pencitraan perlu. Bagaimana orang akan  kenal produk kita jika hanya dari mulut ke mulut?
Gunakan media sosial dengan optimal. Off line mau pun on line harus dijadikan sarana promosi.
Di samping itu, tingkatkan terus kwalitas barang.

2. Rela Irit

Demi meminimalisir biaya, Nisa cari pekerja dari orang terdekat .
Disiplin dan tertib pembukuan adalah penting. Tidak heran bila suntikan dana 100 juta  malah awet tidak terpakai. Omzet pun pernah menyentuh angka yang lumayan.

3. Perhatikan Selera pasar

Tak segan-segan ia mencari ide lewat, pekerja, pembeli mau pun distributor.
Saat saya beli tas, pilihan jatuh pada tas kecil bartali panjang dengan kantong luar tertutup.
Nisa tanya, "Kenapa ibu pilih tas ini?"
Baru sekali lho, saya dapat pertanyaan seperi itu! 
Dan saya jawab... "Tas ini cocok buat ke ATM. Isinya cukup untuk Ponsel, dompet, dan kacamata. Tali panjang sangat memudahkan saat saya harus menjinjing 2 tas belanja. Sedang kantong luar untuk simpan daftar belanja. Saya tidak perlu lagi buka dompet inti"
Nisa mengangguk angguk faham. Kelihatan agak suprise dengan jawaban saya.

4.  Ikut Komunitas

Nisa menyarankan hendaknya  wirausaha ikut komunitas. Menjadi anggotanya seperti dibimbing pelatih terjun payung handal penguasa medan yang tak mungkin mencelakai.
Mereka bukan pesaing, malah saling berkait satu sama lain. Bila ada pekerjaan yang tak sanggup diselesaikan, produk bisa dilempar ke anggota lain. Bagi bagi rejeki.
Bukan hanya informasi toko bahan murah saja yang di dapat, berapa harga jual di pasaran, dan bagaimana strategi pemasaran pun bisa.

Cuma pesan Nisa, jangan langsung minta segala begitu jadi anggota. Baiknya berbuat dan banyak manfaat dulu buat yang lain. 

PROSES PEMBUATAN TAS


Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.Foto Mutiah Ohorella.


Tentu kunjungan tidak sempurna tanpa lihat proses pembuatan. Di ruang garasi ada 5 mesin jahit. 
Seorang ibu tengah teliti menjahit sambil pegang kuat bahan. Konon bagian tali tas paling rumit. 
Sementara di ruang lain memasang resleting , label. mengukur dan memotong. Nyaris tanpa suara apalagi canda. Kami asik berkeliling, ambil gambar, sekaligus belanja hingga tak terasa waktu zuhur datang.

KELEBIHAN TAS HEEJOU



Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Agara lebih percaya diri, pedagang perlu tahu detil tentang kelebihan dan kekurangan produknya dibanding produk lain.
Jahitan tas Heejou halus rapih. Ujung kiri kanan lapisan dalam diberi bahan tebal kokoh. Ini bagian  yang paling sering terlepas jahitannya, ahirnya bolong di pinggir. 

Rasanya belum cukup lihat dan tanya-tanya. Sisa waktu satu setengah jam hanya bisa untuk sholat, makan siang dan bikin Craft Bunga Tulip.
Mbak Neny  ajari kami membuat bunga tulip dari kain perca. Mengerjakannya penuh guyon sampai tak terasa sebentar lagi jam kerja habis.
Sebelum foto bersama, kami dikejutkan dengan bingkisan keren dari Nisa. Horeee!!  2 clutch cantik terbungkus rapih buat kami. 

Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.

Alhamdulillah, semoga Heejou makin ngetop dan laris.
Terimakasih  Mbak Nova dan Mbak Neny atas keihlasannya menggiring kami untuk belajar. 
Terimakasih atas semua ilmu dan nasehatnya, Nisa Rakhmania, pengusaha muslimah dari Bogor.



Foto Mutiah Ohorella.























Thursday, 5 October 2017

Pesan Pak Gendu




Image result for foto pak gendu


Nggak pernah sekali pun membayangkan bakal duduk di tengah pasien penderita gangguan jiwa.
Ini gara gara mendampingi Ibu Iyah instruktur craft yang dipercaya Departemen Sosial untuk membina mereka.

Sebenernya dari rumah sudah deg-degan. Tapi bismillah aja deh!
Toh cuma sehari, dan di sana pasti ada yang mengawasi.

Naik kereta pagi  lewati 20 stasiun, dilanjut 1 kali Grab bike, 2 kali angkot , baru sampai di lokasi panti, Yayasan Galuh, Rawa Lumbu-Kranji.
Di pos gerbang ada penjaga berpakaian lusuh. Itu satpam atau...?

Gerbang besi tinggi terbuka biasa, sepertinya yakin betul penghuni panti nggak bakal kabur.
Sambil tahan perasaan aneh yang tiba tiba muncul, saya terus seberangi lapangan cukup luas menuju aula pelatihan. Lengang,  mungkin habis sarapan mereka kumpul-kumpul di kamar.

Benar juga! Pas tengok ke kanan, terjawab perasaan aneh tadi!
Di sisi tembok tinggi yang saya kira  kosong, ternyata di koridor sempitnya banyak mata kosong menatap gerak saya . Beberapa orang diam dingin, sebagian senyum lebar sambil teriak "Buu, minta rokok!"

Hanya pasien tertentu yang boleh di luar. Mereka masih  bisa terima intruksi dan mau belajar.
Peserta pelatihan 20 orang perempuan dan 6 pria . Kali ini  membuat keset dari limbah. Sebagian sudah cekatan menyelesaikan, sebagian lagi lamban bahkan  meninggalkan pekerjaan begitu saja dan saya yang meneruskan.
Kadang senyum dengar celetukan dan keluhan mereka. Kalau ada yang datang duduk tenang membantu, tandanya dia mau curhat dan ujung ujungnya minta uang 2000 buat beli es. Betapa berharganya si 2000 rupiah yang dipandang sebelah mata kalau tergeletak di meja rumah. Mereka  iri lihat teman sruput minuman dingin dlm plastik atau berjalan pelan bawa kopi panas.
Baru punya duit kalau dijenguk keluarga, dan itu jarang banget!


Asih umur 12 tahun suaranya cempreng, selalu teriak. Dia dijanjikan Bu Iyah sebotol minyak rambut biar rambut tidak lengket lagi. Segera tutup muka waktu saya mau foto. Tapi tetap minta hasilnya.

Ada juga Rinna asal Bogor. Ngakunya dendam pada suami, berkali kali dengan suara pelan minta saya telepon keluarganya.
Desi berkaos orange kulit mukanya manis,  halus, badan bersih. Nggak berhasil merayu saya pinjam hp. Dulu dia pemain band  berjilbab.

"Kenapa dilepas jilbabnya?"
"Ah, jilbab kan universal!" Jawabnya
 Dia tutup obrolan dengan minta rokok. Sementara saya masih mikir, apa maksud jawabannya.

Banyak yang datang curhat, tapi selalu temannya datang mengklaim bahwa  yang curhat tadi berbohong. Kasus sebenarnya bla..bla..bla..
saya sempat terbawa alur cerita. Lupa dengan siapa saya bicara?
Pak Jaja yang tau persis penyebab mereka di situ.

Tetiba 2 orang datang berlari dari arah kantor, sambil teriak, "Horreee! Bulan Desember boleh pulang! Sayang, cuma hayalan!

Sirine makan siang diundur sampai  pengajar selesai makan. Nggak enak juga ditunggu begitu, jadi secepatnya saya santap nasi rames padang yang saya beli sendiri. Setelah itu lihat pemandangan baru! 485 orang berbaris antri makan.
Hanya satu orang yang bertahan tidur di kursi taman sejak pagi.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.
Foto Mutiah Ohorella.

Yayasan dipimpin Pak Jaja sejak ayahnya ( Pak Gendu ) wafat. Almarhum  berani mendirikan yayasan ini karna prihatin banyak penderita di jalanan.
Awalnya cuma 10 orang menempati  bangunan gerdek.
Di tayangan tv pak Gendu sabar ihlas memandikan bahkan menyuapi.

Sumbangan sosial rutin mau pun kagetan sudah merubah gubuk jadi gedung megah, bersih dan teratur. Ada nggak teganya juga sih,  kalau lihat kamar luas full jeruji. Tapi itu pilihan terbaik menghindari kejadian buruk.




Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.



Begitulah, dari kesibukan dapur, musholla kosong, aduan pasien ke Pak Jaja tentang hal yang tidak pantas terjadi di kamar mandi , tatapan kosong di bale-bale rumah pengurus, sampai cekikikan 2 sejoli  di seberang meja yang pamer aurat, dan macam macam lagi.

Pemantik rasa syukur ada di mana-mana.
Perangkat akal budi yang sudah dibekali Allah adalah kenikmatan besar.
Jadi pendengar yang baik , berfikir sebelum berucap, kata-kata penuh manfaat, malu meminta, punya ukuran suara, bicara jujur, semuanya tanda sehat jiwa.

Di antara rentetan doa, selalu  minta Allah baguskan ahlak saya. Mohon didekatkan dengan orang-orang saleh. Saya lupa, Allah lebih tahu bagaimana cara menasehati saya!

Lewat seminggu, masih saja terasa aura panti. Sebelum pulang sempat lihat  Ambulance parkir tanda semua pasien harus disuntik lalu bagi-bagi obat. Tanpa itu, suasana bakal berisik.
1 mobil lain milik 1 keluarga. Mereka menuju kantor. Pak Jaja beritahu,  pemuda berwajah segar, kulit bersih, kontras dengan jaket parasut biru tua dan tas ransel hitam, adalah pasien baru.

Saya berharap dia tidak bercampur dengan penderita berat.

Banyak lagi tempat yang bisa kita kunjungi, tempat kita mencoba  membahagiakan orang lain, seperti pesan Pak Gendu...

"Bahagiakan orang lain, kalau ingin diri kita bahagia"


Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.