Friday, 24 February 2017

Tugas Baru

Sudah lama saya nggak bikin postingan blog. Kangen!
Alhamdulillah bukan karna kehilangan semangat. Tapi karna dapat Job menarik yang saya harap dapat jadi "Bekal Pulang" saya.

Saya diminta rutin menulis untuk satu media. Penghasilannya biasa-bisa saja, nggak Wow banget! Tapi... Dengan tulisan saya, anak anak yatim bisa dapat kebahagiaan. Panti Asuhan yan menampung mereka bisa lebih cepat lagi berhubungan dengan para donatur. Alhamdulillah.

Segala puji, untukMu wahai Allahku... Pemilik cinta terbesar melebihi cinta siapa pun!
Doa lama hamba yang bergelimang dosa ini, kelihatan jawabnya di ufuk timur. Cahaya kemilaunya menambah kecintaanku padaMu.

Izinkan, kemampuan menulis dariMu ini, mampu memberi manfaat banyak. Jadi penerang jalan sendiri yang paling utama. Amiin yaa mujibassaailiin...



** INI KIRIMAN ARTIKEL MINGGU KE 3



AYAH HEBAT

Ayahanda budiman...

Apakah ada sahabat atau kerabat Ayah yang baru kembali dari tanah suci?
Sudah jadi cerita umum, orang yang pulang dari tanah suci akan berkisah pengalamannya. Ada perbuatan buruk di tanah air terbalas di sana, atau dapat sesuatu yang indah disebabkan amalnya sebelum berangkat.
Kita dengarkan dengan takjub. Betapa Allah itu maha adil, tegas, dan memperingatkan dengan cinta.

Kalau dipikir, sebetulnya hal itu tidak hanya terjadi di sana. Dalam keseharian di negeri sendiri pun pembalasan itu ada. Mungkin karna di tanah suci full ibadah, jauh dari kesibukan duniawi, dan sedang berdekatan dengan Allah, jadi teguran kecil sagat cepat dan terasa.

Pak Ramli sopir mobil Online membentak bentak istrinya ketika akan berangkat kerja, karna sang istri dianggap lengah mengawasi anak balita mereka yang terluka karna jatuh.

Begitu sampai di jalan cari penumpang, mobilnya menyenggol mobil mentereng. Kontan si pemilik turun dan membentak-bentak Pak Ramli yang tak berani berkutik. Dalam perjalanan pulang, baru tersadar, ini mungkin balasan perbuatan buruknya pada sang istri.

"Tidak ada kesusahan yang muncul, tak ada kesulitan yang timbul, dan tak ada permasalahan kehidupan yang terjadi kecuali diri kitalah yang mengundang permasalahan datang"


BUNDA PINTAR

Bunda...

Mungkin bunda masih ingat dengan QS Al-An'aam 44...

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membuka semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan pada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa"

Satu saat ada beberapa orang ibu dalam angkot. Suasana sunyi tak ada yang memulai pembicaraan. Hanya deru kendaraan yang terdengar.
Tiba-tiba sopir angkot sontak menginjak pedal rem, ulah pengendara yang seenaknya menyalip.

Salah seorang ibu jadi memulai percakapan.
"Haduh, itulah! Makanya saya malas bawa mobil sendiri. Kendaraan di jalan bikin saya stress!" Sambil menatap senyum pada ibu gemuk, usia  lebih tua di sebelahnya.

"Oo...Kalau saya sih, biasa suami yang setir mobil" Balasnya

Sejak pembukaan dialog itu, mereka asik ngobrol. Si ibu yang lebih tua tadi dengan bangga menceritakan kelebihan suami, kebaikan dan suksesnya anak-anak, mantu saleh, kiriman uang dari anak anak yang besar dan lain-lain.

Bunda yang baik,
Semoga kita diberi kesabaran lisan dan diberi kepandaian dalam merasa.
Menceritakan nikmat dengan mencolok di tengah orang, rasanya tidak elok.

Bagaimana kalau di antara penumpang lain yang mau tak mau, terpaksa mendengarkan itu, ada yang tengah dirundung kesulitan hidup?
Dan bagaimana jika nikmat itu ternyata "Istidraj"? Kenikmatan yang menipu.
Pemberian Allah tanpa ridho yang sengaja diberi agar hamba bertambah kesesatannya. Nauzubillahi min dzalik!

KELUARGA QURANI


Coba sesekali iseng, susun daftar  judul lagu favorite sejak kita kanak-kanak, remaja, hingga lagu terbaru. Kemudian tulis liriknya.
Kira kira berapa lembar halaman? Yang pasti lebih dari sepuluh lembar ya..
Bahkan ada yang bisa hafal ratusan lagu.

Saking cintanya, dengar musik intronya saja sudah bisa menebak dan meneruskan lagu.
Bila di tengah keramaian terdengar sayup1 lagu favorite, telinga langsung fokus.
Bibir bersenandung mengikuti, dan bisa jadi hari itu kita mengulang-ulangnya tanpa disadari.

Apalagi kalau pelantun lagu sangat menjiwai liriknya. Syair menyentuh membuat haru, seolah diri kitalah pelakon syair sesunggunya.
mendamba bertemu dengan penyanyinya.

Mari kita susun, sudah berapa surah quran yang kita hafal?
Sejauh mana kecintaan pada quran? Pernahkah rindu pada quran?
Umur bertambah, tapi bacaan sholat masih surat yang itu-itu saja.
Tak ada larangan membaca sedikit surah dalam sholat, tapi jika cinta pada pemilik kalimat Quran dan pembawanya, tentu timbul rasa puas bila mampu menghafalnya.

Mari kita tambah hafalan kita. Kata para ahli, hormon daya ingat dalam otak akan optimal dan mencegah pikun.
Tapi yang lebih dari itu, menambah kedekatan dan cinta pada pencipta kita.

Bayangkan kenikmatannya. Usai sholat di keheningan,  kita seolah sedang duduk di hadapan pemilik kalimah suci, lalu pelan-pelan Muroja'ah ( Setor hafalan). mengulang-ulang pesanNya.

Mari kita cicipi  manisnya menghafal. Kala dengar quran dibaca, refleks mulut kita meneruskan dengan kebahagiaan yang sulit dilukiskan. Ingat lagi artinya, dan terbawa terus mengisi hari. Dan puncaknya adalah merindukan pertemuan dengan Allah.

Jadi jangan heran, kenapa Rasulullah sering meminta sahabat-sahabatnya membaca quran dan beliau mendengarkan. Jangan heran kenapa beberapa anak penghafal quran tuna netra, tak pernah berdoa minta disembuhkan.
Sebab dengan tidak melihat gemerlap dunia, mereka lebih mudah menghafal dan menjaga hafalannya.

Wallahu a'lam


ANAK JUARA

Sekarang ini kalau dengar orang mengucap kata "Jihad" kok jadi seram yaa.
Bayangannya pasti mujahid yang bajunya berdarah-darah karna perang di jalan Allah. Yang lebih parah dan sangat tidak masuk akal adalah membayangkan  sebuah pesawat terbang melesat menghantam gedung tinggi.

Padahal arti kata jihad adalah BERJUANG. Berjuang bukan dalam perang saja. Tapi berjuang dalam segala hal. Misalnya berjuang bangun pagi untuk sholat subuh dan bersiap-siap sekolah, meski pun air dingin, hujan, gelap dan jalanan banyak air tergenang. Berjuang mengusir rasa malas belajar, berjuang menjauhi teman-teman yang nakal, dan lain lain.

Dengar, bukan? Lima kali sehari azan menyeru, mengajak kita "Hayya 'alal falaaaah" . Artinya, Ayooo kita raih kemenangan! Ayo kita sukses! Ayo kita juara!
Yuk! Kita penuhi seruan itu, baik untuk ibadah mau pun untuk tugas kita menuntut ilmu!


Terimakasih Media MIZAN, sudah memberi saya kesempatan. Semoga jadi amal jariah. Selamat datang.... TUGAS BARU!!




























Sunday, 12 February 2017

Tinggikan Kemanusiaan Dan Kemerdekaan Kita


Anak-anakku...


Titik ordinat kemanusiaan kita adalah pada KEMERDEKAAN. Artinya jika kemerdekaan kita nol, maka nilai kemanusiaan kita nol. Nilai insani kita tergantung pada kemerdekaan yang kita hayati.
Bila  mampu mempertahankan tingginya nilai kemanusiaan dan kemerdekaan,  itulah INSAN KAMIL, atau insan paripurna.

Ini ajaran islam, namun Albert Ainstain menerimanya. "The quality of human being"
Merdeka itu lepas dari segala, bahkan bebas dari dominasi dirinya sendiri.

Apa yang bisa menghambat kemerdekaan manusia? Cuma Tuhan!
Maksud tuhan di sini adalah Illah yang disebut dalam quran hingga 147 kali.
ILLAH artinya TUHAN.  Tapi TUHAN bukan berarti ALLAH.
Maka terjemahan TUHAN dalam kalimat Laa ilaaha illallah, adalah "Sesembahan"

Anak anakku...

Di luar sholat sunnat, kita mengucapkan kalimat tauhid itu 9x.
Berikrar bahwa kita ingin merdeka, tapi hati kita enggan melepas belenggu harta dan tahta yang populer sejak zaman nabi Adam.

Illah bukan berarti Allah. Buktinya dalam Quran kata itu berbentuk plural/Banyak. Ada Ilaahatun, Ilaahun dan ilaahain. Bermakna benda, abstrak, konkrit, bahkan manusia

Perlu kiranya kita memperbaharui lagi pemahaman dari kalimat syahadat.
Jika berpendapat bahwa tak bisa hidup tanpa pasangan kita, bersandar pada gaji, yakin tanpa obat dia pasti mati dll, artinya kemerdekaan kita hilang, dan alangkah lemah sandaran kita.

Mari nak, kita pentingkan Allah di atas segala, bahkan lebih dari diri sendiri (QS 45;32)
Mengutamakan hawa (Personal desire) atau  menuruti apa yang tercetus dalam hati kita, itulah hawa!

Tanpa diajarkan, fitrah kita  haqqul yaqiin bahwa Tuhan kita adalah Rabb pencipta langit dan bumi.

Apakah ada mahluk yang paling yakin melebihi yakinnya iblis akan adanya Allah sebagai rabbu'alamiin? Tapi iblis tidak islam, tidak pasrah pada ketentuan Allah.
Dengan rinci Allah mengurai dialogNya dengan iblis, di Surah Al-A'raf ayat 11 sampai 18.

Apa yang Mama tulis ini, semata-mata ingin mengingatkan. Beragama tak cukup hanya dengan yakin!  Ilmu, Islam dan Iman harus jadi akar hidup dan bekal hidup.
Lepas diri dari segala, agar ringan langkah saat pertemuan dengan Allah.

"Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan "Kami telah beriman", sedang mereka belum diuji? (Al-Ankabut 2-3)

Ayo, sayang..

Tinggikan kemanusiaan dan kemerdekaan kita.

























Monday, 6 February 2017

Semua Ada Masanya


Seperti bebenah rumah yang mau kedatangan tamu.
Sisir ruangan dari teras sampai tembok ruang paling belakang.
Menyapu dan pel  lantai, lap debu, rapihkan kamar
Cuci perabot yang manfaat, dan tata baik segala yang berharga
Warisan penerus kehidupan

Demikian juga yang saya lakukan di rumah blog ini.
Kemarin lebih dari seratus postingan dalam draft sudah saya delete
Selanjutnya...
Postingan yang sudah terpublish pun akan saya sortir.
Yang manfaat, dan kira kira dapat persetujuan dari pemilik
kemampuan menulis saya.

Capek juga ternyata mensortir itu. Nggak seperti waktu membuat.
Santai, asal jadi, asal keluar, asal asalan pokoknya!
Padahal semua ada tanggung jawabnya.

Its time for cleaning!
Jika sudah selesai, rehat sejenak.
Nikmati rumah bersih rapih, sambil meneguk minuman segar

Semua ada jatahnya
Semua ada ukurannya
Semua ada masanya




Pertemuan Kita


Ketika angka memudar
 Penghargaan  hambar
Tak butuh lagi pandang

Jari berkeringat mengumpulkan zam zam di sisa waktu
Demi senyuMu saat pertemuan

Kemarin pagi
Buih  kukira kapal berlayar putih
Kegaduhan kukira melodi terindah

Kupandang cantik domba cacat sekarat
Bermata buta denga satu telinga
seharga 1 dirham.


Jauhkan aku dengan kesalahan
Laksana Masyriq wal maghrib
Tercuci dengan tsalji wal barad.

Hibur aku
Seperti Kau hibur ibunda Musa
Tenangkan aku
Dengan bisikanMu di Jabal Tsur

Pertemuan kita 
titik uap kembali pada samudera
membawa serpihan rayhan 99
susuri celah batu
bersihkan  diri dan ilalang

Pertemuan kita
debu menuju Bima Sakti
Genapi  kendaraan Wala' dan Baro'ku

Perjalanan panjang

Semoga... Semoga
Tak ada daun kering berterbangan di sana
Tak ada lipatan yang dilempar ke wajah hina

Hanya
Seteguk air di sisi telaga
Dari tangan lembut kekasihMu
Pengantar
Pertemuan kita
























Saturday, 28 January 2017

Fun Doodle Di Stasiun Tua Bogor


Foto Su Rima.


Waktu pihak  Kriya Indonesia menghubungi via email, saya senyum senyum kecil  dalam hati. Bener nih mau ikutan lukis Doodle?  Buat apa sih?

Hhhmm, sesekali  butuh kegiatan yang mampu membawa kita ke planet lain, bukan?  Tugas dan kewajiban  di bumi terlalu bertimbun, sampai nggak sempat memeluk dan menghibur diri sendiri. Lupa what is fun. Padahal menurut psikolog, unsur fun masih tetap diperlukan berapa pun usia kita.

Fun adalah salah satu stimulan untuk kita tetap eksploring dan kreatif.
So, let's have FUN with what everything we do.


Okeh!
Hari minggu jam 9 lewat dikit, Grab turunkan saya di depan stasiun tua Kota Bogor.
Waktu tanya Petugas informasi, saya harus gunakann Money Card atau free, mereka  nggak bisa jawab. Wajahnya seperti nggak yakin kalau di dalam ada  acara. Terpaksa deh, tunjukin undangan di Instagram.
Bukannya dapat jawaban, malah cengengesan suprise dan koment...
 "Iiihh, Ibu keren, punya Instagram!"
Hushh!!  Hehe, emang kenapa? Situ mau follow?

Iyess, jalur husus sudah menanti. Dan alhamdulillah, kesampean juga keinginan lama, blusukan di gedung buatan Belanda  tahun 1881 ini.

Ruang tamu utama dihiasi lampu ukir gaya Eropa. Serasi manis dengan tirai panjang. Mbak Astri Damayanti mewakili  Kriya Indonesia membuka acara. Menyusul sambutan dari  Kepala DAOPS I Stasiun Bogor, Bapak Jhon Berto.

Pintu dan tembok jaman dulu  nggak bisa dipungkiri kwalitasnya. Ketebalannya mampu meredam bising lalu lalang kereta. Plafon tinggi jadi AC alami.
Terpilihnya lokasi ini bukan sekedar  bahan inspirasi lukisan saja, tapi untuk kenal sejarah dan faham kondisi  perkereta apian di Indonesia.

Pak Jhon bilang, PT KAI  kerap meningkatkan pelayanannya. Seratus persen saya percaya,Pak!
Jumlah armada terus bertambah seiring dengan bertambahnya petugas kebersihan dan keamanan.  2 gerbong husus wanita dengan penjagaan 2 satpam  paling bikin nyaman. Mereka siap mengingatkan penumpang belia untuk mengalah pada lansia/ ibu hamil.

Gerbong yang dulu berisik  suara pedagang, pengamen dan tangisan  anak kecil yang kegerahan, telah  berganti dengan musik lembut DTV. Televisi bermodulasi digital dan sistem kompresi yang mampu menyiarkan sinyal gambar, suara dan data.
Selama perjalanan penumpang mendapat info kecantikan, traveling, film, hingga kalimat bijak para filusuf.

Di jam-jam kerja  masih padat penumpang, tapi  AC bekerja sempurna, jadi nggak bikin emosi. Badan nggak oleng dadakan kayak dulu, entah kesenggol box dagangan atau copet?

PT KAI menurut saya sudah cukup berbuat. Tinggal masyarakat yang harus pandai menjaga. Pernah saya lihat ada ibu yang membiarkan anaknya membuang bungkus snack begitu saja. Langsung saya pungut, nggak peduli liat wajah dia bengang bengong.
"Ibu, simpan sampah ini. Nanti buang di stasiun tempat ibu turun!"

Saat yang lain, ada sisa permen lengket di lantai, ibu di sebelah saya langsung ambil dengan tissue. Alhamdulillah, masih lebih banyak penumpang sadar kebersihan dan tau bersyukur.

Foto Su Rima.


Pak Jhon  curcol. Warga di pinggir lintasan masih saja  ada yang mengidap penyakit iseng. Kereta mulus, baru beroperasi satu hari dilempari batu.
Belum lagi pencurian mur, bantalan rel, pengrusakan pagar pembatas. Yang paling ngenes kalau disalahkan jika ada kecelakaan di pintu lintasan.
Beliau  berharap Pemda dapat bekerja sama, dan blogger jadi penghimbau  lewat tulisan.

Usai memberi sambutan, blogger diajak keliling ruangan atas berlantai kayu. Sebagian besar kosong. Mungkin karna kecanggihan administrasi modern nggak membutuhkan lagi ruangan besar. Mungkin...

Foto Su Rima.



Besi tempa dan grendel pintu berbahan kuningan sudah pasti jadi sasaran kamera saya. Begitu rombongan keluar ruangan, langsung saya nikmati.
Sampe lupa lho, ambil jatah donat dan susu coklat di Dunkin. Untung masih punya kupon makan siang Hokben.

Oh ya, mumpung bisa ngobrol dengan pak Jhon, saya ungkapkan rasa terimakasih  penuh bangga. Musholla Bogor paling megah, indah dan bersih dibanding staiun stasiun lain.

"Tapi, masih saja ada yang mengeluh,Bu" Kata beliau diiringi senyum sabar.

Foto Su Rima.

Foto Su Rima.

Foto Su Rima.
Foto Su Rima.

Terpenuhi sudah kepo saya selama ini. Suka penasaran dengan misteriusnya gedung tua.  Apalagi rumah tua pecinan di kota sana. Kenapa ya, warga Cina senang rumahnya terkungkung teralis tanpa hangat matahari?

Jam 10 lewat. Saatnya Nge-Doodle!
Sama enaknya dengan saat nge-noodle.
Pak Ray mewakili Stabilo Indonesia, menerangkan kelebihan spidol Stabilo  asal Jerman ini.  Brand yang kadung lengket di benak ini ternyata aman buat anak-anak. Telah diuji bebas racun dengan cara meneteskan tinta ke styrofoam, tinta nggak  menyerap sedikit pun.

Ujung sipdol berukuran  2mm membuat nyaman saat menggambar dan mewarnai sudut-sudut.  Ada 30 macam warna-warna cerah   dengan 3 varian. Nggak heran  kalau dijadikan petunjuk warna oleh ibu ibu saat belanja baju. Hijau stabilo... Biru stabilo.

Foto Su Rima.

Foto Su Rima.

Tangan Mbak Tanti sang guru Doodle, mulai lincah beraksi membuat coretan asal.  Perlahan berubah jadi bentuk bermakna.

Pernah nggak, corat coret di halaman belakang buku tulis karna ngambek, kesal atau bosan dengan penjelasan guru di depan kelas? Nah, kayak gitu!
Nanti gambar nggak puguh itu akan memancing imajinasi. Tangan kita semakin lancar menuangkan ide ide unik. Gambar bebas, nggak terikat kaidah melukis.
Gambar gedung bertumpuk, ngak logic, nggak nyambung, warna warna tabrak lari nggak bertanggung jawab pun boleh! Namanya juga free hand art.

Doodle dalam bahasa Indonesia berarti coretan untuk membantu manusia berpikir.
Berasal dari  lampiasan  rasa seni manusia purba di dinding-dinding gua. Istilah doodle  sendiri muncul di abad ke 17.

Awalnya bingung , mau gambar apa? Sambil bikin lengkung, garis, bulatan asal, ahirnya berkembang ide lanjutan.
Apalagi Mbak Tanti mau meminjamkan spidol warna lain. Jatah dari Stabilo cuma 4 sih! Bikin mampet ide! Haha, bilang aja nggak punya ide!

Sayang, waktu sempit. "Dilanjut di rumah yaa" Kata Mbak Tanti.
Kesimpulannya, doodle itu cocok buat mahluk kayak saya yang  nggak punya bakat melukis.
Ini di hasilnya! Setengah doodle, setengah lukisan anak TK.
Yang penting dapat nikmatnya. Masuk ke planet masa kecil.

Sampai rumah, selameeet.... Nggak diketawain suami dan anak-anak.
 "Asal Mama Senang" ngkali yaa.


Foto Su Rima.

Buat sahabat-sahabat blogger yang belum dapat kesempatan, bisa ikutan STABILOpreunuer.
Jika sudah punya akun Lazada di salah satu officialnya, berhak mendapatkan voucher belanja di Lazada. Intensivenya juga dapat , setiap membelanjakan voucher.

Terimakasih Stabilo. Benar benar berkesan fun doodle di Stasiun Tua Bogor.


























Sunday, 22 January 2017

Kalau Dapat Singkong Jelek



Ibu satu ini masih rutin bawakan saya hasil kebun, tempat anaknya kerja.
Sudah saya sarankan agar dijual saja buat beli beras, tapi kekeh dia  mau bersedekah buat saya, dan kalau dijual di kampung pun dihargai murah.

Ya sudah pasti, karna Singkong/Ubi/Pisang/Bangkwang yang ia bawa rata-rata 40%  rusak. Tapi saya terima saja niatnya lalu kasih uang lelah.
 Kata pak suami... "Ma, kok kita  jadi kayak belanja rutin beginian, ya?"

Bener juga sih, tapi saya belum punya ide/ solusi supaya ibu itu punya usaha. Apalagi menyemangati orang! Nggak lihai.
Paling idenya, mau diapain sedekah ini? Singkong sudah berbintik hitam kan nggak enak digoreng.

Foto Su Rima.


Ingat zaman kecil dulu.
Tiap pulang dari pasar,  ibu sering bawakan Cendil makanan kesukaan saya. Jajanan campur campur dalam satu wadah daun itu salah satunya ada singkong parut kasar. Kalau nggak salah namanya Sawut.

Makanan sederhana tanpa ribet. Yang awam masak pun pasti mudah mereka bahan dan cara bikinnya.
Cuma kukus singkong yang sudah diparut kasar. Lalu taburi parutan kelapa yang dudah dibubuhi sedikit garam dan gula pasir. Atau pakai irisan gula jawa juga enak.

Pisang digoreng, bangkwang bikin asinan, sementara ubi belum tau mau diapain?
Ubi setengah rusak baunya sudah beda.

Semua saya masak satu kali, hawatir tambah waktu tambah rusak.
Barang sedekah, kita sedekahin lagi buat banyak orang. Dari pada cuma mikir ... Kenapa dikasih makanan rusak?
Kita juga sering kecewa begitu buka belanjaan dari pasar,kan?
Ya sudah, kita bikin menu kampung yang asik asik  kalau dapat singkong jelek.













Saturday, 14 January 2017

Kita Mimpi Yuk!






Nggak mungkin saya  jadi Olynda. Gadis  bermata bulat dengan rambut ikal coklat bergelombang  besar. Designer belia yang tinggal di kastil  nyonya  bangsawan, clientnya.

Nggak mungkin  duduk di perpustakaan  berinterior Eropa klasik. Tenggelam di sofa baca warna mocca  serasi dengan warna pita   merah jambu  di pinggang saya. Renda putih romantis di leher baju membingkai  wajah lembut. Sesekali kerlip  bross warna ungu tua yang  tertimpa cahaya lampu krital membias di pipi dan dagu.

Apa lagi yang ini...
Putra tunggal clientnya yang lama sekolah di luar  negeri  tiba tiba memasuki ruang. Di sana awal cinta tumbuh. Saya jadi Olynda yang mampu membuat wajah dingin cerdas itu mencair  hangat penuh rindu. Meski harus berjibaku dengan kobaran cemburu melihat sang pangeran selalu dikelilingi gadis gadis berkelas.

Hihi, Blass!...Nggak mungkin samsek!
Itu mah ngayal Babu, kata anak sekarang.


Dahulu motivator Mario Teguh merancang mimpi. Punya rumah besar lengkap dengan kolam renang di dalam ruang. Sebegitu rinci angannya hingga mencatat berapa ketinggian permukaan  kolam. Dan semua terwujud persis.

Kata orang sukses, bermimpilah mumpung  gratis! Mimpi adalah masa depanmu.
Bermimpilah! Mimpi akan menggerakan tenaga untuk meraihnya.

Bahkan saya alami, impian waktu jadi   korban novel Barbara Cartland itu datang menghampiri tanpa usaha.
Di luar bayangan, saya uapkan mimpi bersama  orang orang tercinta.
Memang cuma patahannya, namun jadi anugerah besar karna  pemilik diri ini menunjukkan ke maha-an sifatNya. Ia pengabul segala keinginan  meski kecil sembunyi  tertutup batu hitam di malam pekat.






Bermula dari kepergian saya dan keluarga ke Bandung untuk hadiri acara Wisuda. Saya agak trauma cari penginapan di pusat kota saat acara penting kampus.

Pengalaman waktu anak ke dua mau daftar ulang di ITB, kami kehabisan penginapan. Keliling sampai magrib belum ketemu juga. Hingga usai sholat dan ngaso di masjid baru kami dapat jawaban yang membahagiakan dari resepsionis Home Stay. Ada sisa 1 kamar kosong, bisa booking buat 4 hari mendatang, alhamdulillah.
Kami dapat rumah tua  di pojokan daerah Suka Jadi, nggak apa-apa!
Printilan toilet jadul  dan sprei putih hampir menguning, ihlas! Yang penting anak saya nggak telat ke kampus, dan saya bisa menemani sarapan sambil kasih support.

Sekarang hari wisuda kakaknya. NHI perguruan tinggi negeri juga, jadi kasusnya sama dengan ITB, penginapan sekitar kampus sudah full booking oleh keluarga dari daerah daerah terdekat hingga  ujung Indonesia.

Saya pasrah jika dapat penginapan seperti dulu. Nggak berani tanya-tanya namanya apa, tempatnya di mana, ke anak yang sudah booking. Hawatir keluhan saya merusak suasana.
Dalam perjalan saya  cuma banyak syukur  menikmati kebersamaan. Sebab untuk pertama kalinya kami sekeluarga bepergian sejak pak suami pulang dari rantau.


















Foto Su Rima.


Langit mendung dan pepohonan basah menyambut kami di depan bangunan putih antik. Jendela kayu berkisi  berderet tinggi tinggi . Ada ayunan  kayu, lebar beratap kain, menghadap taman. Restaurantnya out door di sisi kanan gedung. Bergantungan kap lampu berseling sangkar burung berukir, semua serba putih. Eropa banget!

Dan begitu  masuk lobby, mimpi saya membentang!
Ruangan berinterior eropa klasik dengan lampu lampu redup romantis. Ruang perpustakaan berlampu baca tua, persis gambaran benak saya waktu jadi Olynda.



Haduh!! Rasanya kepengen jingkrak-jingkrak kayak ABG penggila drama Korea ketemu idolanya. Saya ingat  ajaran sahabat saya untuk  memaksimalkan Pre Frontal Cortex, bagian otak penahan  keinginan dan pengendalian diri, demi melawan otak reptil yang terlalu cepat mendesak desak bereaksi.

Saya memilih tinggal di kamar waktu pak suami dan anak anak  ajak makan mie kocok. Luapan bahagia saya tuntaskan dengan menyusuri semua sudut ruang penginapan yang kebetulan sedang sepi.

Susuri lorong sejuk  yang diterangi lampu dinding. Ada suprise di ujung sana. Pucuk pucuk Pinus di balik kaca berbulir hujan.
Di  sudut lantai  bawah bisa lihat teropong bintang , gramaphon, dan alat musik tua. Pokoknya  ambil gambar sampe kenyang,

Setelah puas, baru nikmati tempat tidur lembut harum, bersisian dengan tirai anggun menjuntai dengan motiv khas.
Entah bagaiman dalam pandangNya, melihat saya tersipu malu dan bersyukur  menerima hadiah.





Allah terlalu kaya dan santun. Malu bila tak mengabulkan harapan. Mungkin di bumi kita dapat seperempat patahan atau kurang dari itu. sisanya dibayar kontan pada hari "Perjumpaan" Insya Allah.

Eh, ada lagi mimpi saya yang lain. Ingin punya panti asuhan, balai pertemuan dhuafa tempat berbagi ilmu, dan satu mimpi spectakuler masa kecil masih tersimpan rapih dalam kotaknya.


Bermimpilah bahkan untuk hal yang mustahil sekali pun. Karna mimpi adalah doa. Bermimpilah setinggi langit. Andai jatuh, kita jatuh di antara bintang.

Ada stiker guyon nulis begini...
Bikin alis nggak usah  tinggi-tinggi, karna  bukan mimpi atau cita-cita. Hihi.

Kita mimpi,yuk!
























Saturday, 7 January 2017

Pikiran Sore...


Seorang teman mengadu. Ada ustad tanya begini waktu kajian.

Mana yang lebih baik?
Kafir tapi baik hati, atau
Muslim tapi jahat?

Mana yang lebih baik?
Wanita berhijab tapi melawan suami
Atau wanita tak berhijab tapi taat pada suami?

Ah, ini sama dengan...
Muslim korupsi
Atau kafir tapi jujur?

Lalu sang ustad menjawab sendiri.
Kafir  dan perempuan  tak berhijab lebih baik.

Sebenarnya itu bukan pertanyaan, tapi perbandingan yang tidak pas.
Dan tidak ada pilihan karna keduanya salah. Jauh dari kebenaran.


"Kebenaran itu relatif,Mbak". Kata teman saya lagi.
No! Kebenaran hanya satu, Ia  datang dari  Allah. Absolut!

***


Ustad seperti dukun
Dukun seperti Ustad

Artis seperti ustad
Ustad seperti artis

***


Mengaku muslim.
Padahal cuma "Merasa" muslim.
Iman sudah tercabut perlahan.
Masuk dalam kelompok abu abu
Kelompok yang sudah ada sejak Rasulullah hidup
Mereka mendirikan sholat, berzakat, berhaji, bahkan ikut berperang
Namun hati berpenyakit. Benci melihat muslim bersatu kuat

Sebagian lain
Berpola pikir plagiat. Pemahaman  Kuffar diangap keren.


Pilah pilih ayat sesuai hawa nafsu
Mengatakan Raainaa, padahal Allah bilang Ra'iinaa.
Senang pada ayat mutasyabihah.

Katanya, cuma Allah yang bisa menafsirkan Quran dengan benar.
Padahal kalimat itu bertujuan  melegalkan pemahaman liar atas firman.

Kelompok ini bermesraan dan lembut pada musuh Allah
Keras dan kasar pada saudara seiman

***

Seorang muallaf mengeluh, persyaratan masuk Islam perlu uang administrasi. Padahal ia tengah terluka. Terusir dari keluarga, kehilangan pekerjaan.
Banyak muslim kurang faham.
Salah satu Ashabul Ahnaf adalah  Muallaf.

***

Berlompat lompat pikiran sore ini
Semoga kita tak  "Merasa" muslim

Bukankah Firaun merasa dirinya Tuhan?
Bukankah Nabi Yunus merasa cukup berdakwah?
Bukankah Nabi Musa merasa cukup arif?

Cepat mengubah diri sebelum Allah mengganti dengan kaum lain.

Dan barang siapa yang berpaling dari ketaatan pada Alah, maka niscaya Allah akan menggantikanmu dengan kaum lain. Mereka mencintai  Allah dan Allah mencintai mereka. (QS Muhammad 38)
Tak ada lagi kenikmatan lain, selain mendapatkan cinta Allah.

Apa saya juga termasuk orang yang "Merasa"?
Wallahu 'aliimum bizatissuduur.

Pikiran Sore...













Tuesday, 3 January 2017

Saya Dan 2016


Di ujung 2016, nggak ada resolusi-resolusian. Malam gembira (Bagi orang)  lewat begitu saja seperti tahun tahun kemarin.
Yang enak sebetulnya menulis di blog yang hampir berlumut ini. Tapi masih banyak urusan. Urusan hati!

Ada sedih...
Beruntun 2 orang sahabat wafat. Menyusul  (Ambang 2017) putra tetangga yang sejak bayi suka main di rumah, termasuk korban kecelakaan kapal Express Zahroh yang terbakar.
Hari ini jenazahnya masih ditunggu karna proses panjang di Rumah Sakit dan Kantor Polisi.

Ya Allah, terbayang terus senyum ramahnya sembari panggil-panggil dari jauh di mana pun kami ketemu.
Menurut sahabatnya yang selamat, ia sempat menolong orang lain sebelum  terjun.

"Kamu baik bener! Serasa kamu hadir waktu papamu kasih lihat tante 2 foto besarmu"

Ada problem...
Rumah kami mau dibeli. Jadi harus cari rumah lagi.
Susah ya cari rumah tuh! Seperti cari pasangan hidup. Harus bener bener klik di hati.

Rumah baru banget pasti Ok di mata. tapi begitu diketok, dinding berasa kopongnya. Hehe, nggak bisa becanda dorong-dorongan dong ya! Udah gitu sempit ( type 120). Kurang seru kalau lagi ngambek sama pak suami, nanti cepet baikan! Hihi

Semoga dapat yang terbaik. Harga murah, model nggak norak, adem, strategis, enak buat beribadah dan bermuamalah. Amiin.

Ada Takut...
Hmmm... Nggak usah diceritain deh. Manusia kan diuji dengan kepalaparan dan ketakutan. Jadi keep aja soal ujiannya. jawab diem diem.

Alhamdulillah masih punya bahagia.
Pagi petang lihat pak suami dan anak anak sudah kelar mandi dan berangkat ke masjid sama sama. Nggak ada yang melebihi dari itu.

Selamat tinggal 2016!
Entah cerita apalagi di depan? Bagaimana pun cuaca hati, semoga Allah beri kepandaian  menghitung matematikanya sabar syukur dan selalu ingat ucapan yang Dia ajarkan "Innallaha ma'anaa"














Friday, 23 December 2016

Toleran Itu Mendewasakan

Image result for toleransi


Saya lagi inget mantan tetangga  saya, selang 5 rumah, belasan tahun lalu.
Di satu malam  takbiran  tiba tiba Asisten Rumah Tangganya, Mbak Epon datang. Saya sedang  selonjoran ngaso di depan tv, habis masak lauk lebaran. Rumah masih penuh harum  Opor.

"Bu, maaf saya bertamu malam-malam. Ada surat dari Madam" Katanya sambil sodorkan amplop kecil warna putih

"O, nggak apa-apa. Saya juga belum siap-siap tidur kok!"
Belagak tenang saja, tapi dalam hati terheran-heran. Kok tumben ibu yang pintunya selalu tertutup, tampilan ningrat dan jarang menyapa tetangga itu kirim surat?

Di amplop ada uang dalam lipatan kertas, bertulis...

Selamat malam Ibu.
Mohon maaf jika saya merepotkan.
Apa boleh saya beli ketupat sayur buatan ibu sedikit saja? Anak saya Nevy ingin sekali makan ketupat lebaran.
Terimakasih sebelumnya.



Wah, kenapa baru nyadar ya? malam spesial gini dapur dapur muslim cuma menyebarkan aroma saja. Kasihan, ada yang cuma bisa mencium dan  membayangkan

Saya kembalikan uang dalam amplop dan nggak lama kemudian Mbak Epon sudah keluar pagar bawa rantang menu lebaran cukup buat keluarga kecil itu.

Lingkungan sini nggak punya acara saling kunjung usai sholat ied. Pintu banyak tertutup  karna nonmus,  mudik, atau  langsung ke orang tua di daerah terdekat.
Jauh beda dengan tempat Bapak di Jakarta. Warga yang tak merayakan lebaran bisa sama sama menikmati ketupat karna saling kunjung.

Saya nggak menyangka sejak peristiwa  itu saya jadi akrab dengan Madamnya Mbak Epon. Terbiasa ketuk rumah tetangga antar menu lebaran.
Senang kalau ada ketupat juga di meja makan orang yang tak merayakan lebaran, sesenang lihat wajah mereka saat menerima.

Dan sejak itu pula, saling berikirim makanan berlanjut. Rumah saya selalu dapat kiriman kue kue cantik di hari Natal. Hari hari raya datang tanpa tuntutan harus memberi ucapan, menyejukkan sekali! Mungkin karna sudah terwakili dengan ihlas dan kesantunan.

Toleransi itu sederhana ...
Toleransi bukan MENGIKUTI tapi MENGHORMATI. Seperti Rasulullah yang berdiri dari duduknya saat usungan jenazah orang Yahudi lewat di depan beliau.
Sahabatnya bilang, "Ia orang Yahudi!"
Rasul menjawab: "Bukankah ia manusia?"

Atau seperti seorang gadis dengan anjingnya di taman. Begitu berpapasan dengan ibu berhijab, ia berusaha halau anjingnya agar tak mencium kaki ibu tadi.

Toleransi bukan cuma bikin luas hati. Tapi bisa jadi penahan lidah. Memaksa kita untuk menambah lagi sifat baik.

Satu  cerita di  film kartun Upin dan Ipin. Mereka sedang nonton acara budaya Cina. Bangku deret depan tak boleh diduduki.   Tentu mengundang tanya Upin Ipin.
Sahabatnya Mei Mei  menerangkan, kursi itu akan diisi oleh para hantu. Upin  Ipin mengangguk angguk saja dengan gaya khasnya.
Nggak ada koment, kenapa begitu? ... Aneh!...Lebay! atau kata kata lain yang nggak perlu.

"Dan janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka. Lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan"
(QS Al-An'am 108)

Nggak habis habis cara dan media Allah demi mendidik kita. Kejadian seremeh apa pun tetap terkandung nasehat. Toleran itu mendewasakan.