Saturday, 18 November 2017

Kelebihan Cahaya Alami


Cahaya masuk dari jendela menimpa gelas  favorite.
Saya termasuk pecinta cahaya natural ketimbang menggunakann lampu meja atau lampu LED. Apalagi lampu continuous  seharga 5,75 juta, nggak deh! Kecuali dapet gratis  :)

Fotographer paling keren bagi saya, hasil fotonya menggugah perasaan, pemandangan dalam negeri tapi seperti di negeri manaaa gitu, cermat pilih  moment dan tentu gambar biasa jadi luar biar karna kecerdikan menggunakan cahaya.



Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.



Foto Mutiah Ohorella.


Kelebihan cahaya natural, warna lebih tajam, anti ribed, dan warna kontras.
Tantangannya, harus peka lihat bagaimana cahaya berinteraksi dengan elemen-elemen dalam frame.
Cahayanya membuat objek mudah lihat atau malah mengaburkan, lembut atau pecah.

Kelemahannya, jatuh cahaya cepat berubah saat matahari beringsut. Tinggalkan saya yang menatap pasrah. Posisi objek yang tadinya bikin saya jatuh cinta dan bersegera ambil kamera, seketika nggak berarti apa apa lagi.


Monday, 6 November 2017

Tentang Rahasia


Lovely key


Seorang murid datang menghampiri Rasulullah lalu bertanya "Aku punya satu rahasia memalukan saat berfikir tentang Allah, sejak itu aku merasa berdosa terus menerus. Apakah Allah mau mengampuniku?"

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Rasul

"Aku tak akan pernah sanggup mengataknnya"

"Allah maha tahu dan pengampun, bila saat itu engkau tidak menyukainya"



Tentang rahasia, Presiden RI pertama pernah menulis...

Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin.
Menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.
(Bung Karno, 1933)


Adik mertua saya badannya kurus kecil usia jelang 80.  Tapi tenaganya luar biasa! Ia masih kuat  kerja berat. Pernah dari pagi sampai sore menyemen dan membaguskan makam kakaknya tanpa sarapan. Makan siang sudah terbiasa minus nasi. Hanya beberapa batang buncis rebus dan tempe goreng.

Saat kami ketemu ia beritahu rahasianya, ia kerap minta pada Allah dengan polos.
"Ya Allah, jangan sampai saya jadi hamba yang senang makan"
Doa yang nggak lazim, kan?


Masih soal rahasia...
Sahabat saya bertemu dengan teman akrabnya yang lama terpisah. Ia abadikan pertemuan itu di instagram bertuliskan...

Teman sejak TK hingga kini. 
Semua aib saya tersimpan olehnya.
Kami bertemu sejenak di Bandara, tertawa sembunyikan air mata
Sahabat itu cerminan jiwa



Mengapa sejak kemarin saya ingin menulis tentang rahasia?
Jawabnya, rahasia.... :)





Thursday, 2 November 2017

Wajah Kemayoran Kini



Foto Mutiah Ohorella.



"Mbak, tumben motret-motret bangunan"  Koment teman FB .
"Di mana saya ada, di situ saya motret,Mbak" Jawab saya.

Kebetulan kemarin  saya dan pak suami ke apertemen kakak ipar di Kemayoran. Wilayah yang menyimpan banyak  kenangan kanak kanak.
Kami susuri  jalan Garuda dan Jalan Haji Ung, nama ayah aktor Benyamin yang jadi tokoh di kampung itu. Di sanalah suami saya lahir.

Dulu, bandara Kemayoran kebanggaan berdiri tegak di sini. Sejak oek..oek sampai tua begini saya baru tahu kalau nama Kemayoran asalnya dari tuan tanah orang Belanda berpangkat Mayor. Ada juga yang bilang karna di situ ada perumahan husus mayor.

Cukup beruntung sempat nikmati 2x penerbangan sebelum pindah ke Bandara Soekarno-Hatta.
Pertama  ke Pulau Dabo ikut bapak ceramah di Perusahaan timah, dan terakhir perjalanan ke Surabaya-Banjarmasin yang jadi pangkal pertemuan 2 hati *Ehem!
Jelang pesawat landing, kelihatan jelas atap rumah seperti kotak korek api jingga. Makin lama makin dekat sampai kelihatan jemuran.
Peraturan bandara pun masih longgar. Petugas keamanan cuma beberapa orang, dan penjual koran diizinkan mangkal dekat parkiran. Paling senang kalau lihat pilot gagah yang biasanya jalan cepat mau berhenti sebentar  beli koran/majalah.


Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.


Ingat bagaimana susahnya tidur malam, karna nggak sabar tunggu subuh. Antar saudara ke bandara itu sesuatu banget! jangankan lihat pesawat, baru dengar deru mesinnya saja sudah bikin kaki gatal ingin cepat keluar mobil. Lalu jejakkan kaki di keset sabut tebal, menanti pintu kaca otomatis terbuka. Hmm...  Udara segar harum menyeruak dari dalam

Kaki panjang Pramugari berseragam oranye ketat, topi silinder dengan  syal warna senada.
Saling lempar guyon tapi tawa tetap sopan.
Sebagian lebih dulu masuk pesawat sebelum penumpang melambaikan tangannya di anak tangga.
Kapan lagi yaa, bisa dadah-dadah lepas kepergian sampai anak tangga terlipat masuk perut pesawat?

Saya nggak sedih ketika pesawat besar itu menelan roda-rodanya. Sebab ada ritual berikutnya yang saya nanti. Nikmati aquarium besar isi aneka bentuk ikan hias laut, dan minum susu coklat di balkon pengantar sambil saksikan pesawat mengecil di lipatan awan.

Image result for bandara kemayoran dulu dan sekarang
                                                               13794867131234745958


Wajah Kemayoran  kini lebih cantik, hijau, teratur dan bersih. Hanya kurang ramah dengan berbarisnya apartemen, lapangan golf, dan hotel. Penjagaan ketat di sana sini.
Bekas landas pacu pesawat jadi jalan raya, mungkin ini jalan aspal terkuat.

Apertemen yang kami tuju ada di antara 49 apartemen yang dirancang dengan konsep mix used. Berpadunya green natural, pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, dan leisure.
Paradigma hunian vertikal yang bukan hunian semata, tapi juga untuk investasi jangka panjang.
Harga minimal 270 juta rupiah untuk mendapatkan ruang studio ukuran 22,14 meter persegi! Seluas kamar tidur saya.

Rencana ke depan akan dibangun wisma atlet dan 50 rusunami dengan 7200 unit.
Entah apa lagi rencana pemerintah yang bakalan bikin tambah pangling.
Semoga masih disisakan sedikiiit saja kenangan yang tersisa.
Warung Ketan Susu di gang sempit Jalan Garuda, warung tenda nasi padang SALERO yang jam 10 pagi sudah habis rendangnya, dan bangunan tua kantor Majalah favoit saya, Gadis dan Femina.

Yang terpenting peninggalan bandara  internasional pertama milik bangsa sejak tahun 1929 ini dirawat dengan baik lalu jadikan obyek wisata sejarah.  Menara ATC (Air Trafic Control) masih ada.  ATC pertama di Asia itu pernah mengawasi frekwensi 100.000 penerbangan pertahunnya meski sudah berbagi dengan Bandara Halim. Kesibukan itu membuat pemerintah ORBA membangun Bandara Soekarno-Hatta.


Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Saturday, 14 October 2017

Pengusaha Muslimah Dari Bogor


Foto Su Rima.

Keinginan terbesar saya, punya penghasilan tanpa banyak meninggalkan rumah, banyak sedekah, bisa berbagi ilmu, urusan rumah kelar, tapi hobby tetap jalan.
Apa mungkin?

Tidak ada yang mustahil. Lihat Nisa Rakhmania. Sosok wanita muslimah yang jadi pilihan Komunitas Blogger mulimah untuk dikunjungi. Salah satu agendanya adalah PEM  (Program Eduvisit Muslimah). Kami diberi kesempatan belajar, gali ilmu dari wanita mandiri yang banyak memberi inspirasi.

Saya dan 2 sahabat lebih dulu hadir karna warga Bogor. 
Rumah produksi tas Etnik yang dikelola Nisa  berpagar tinggi cat hijau sesuai dengan label tas "Heejou", identik dengan Go Green
Tidak sulit mencari karna cuma 50 meter dari terminal Laladon-Bogor.

Begitu masuk sudah kedengaran suara mesin jahit bersahut-sahutan. "Bau Duit" kalau kata orang China yang menganggap rumah kotor, berisik, penuh barang itu bau duit.
Tapi rumah ini bersih. Pekerjanya serius . Tidak ada bicara atau canda sia-sia
Nisa sang owner berbicara pelan saat beri intruksi. 
Senyumnya mengembang ramah tulus begitu menyambut. Hampir salah! Saya kira ia  Blogger juga. 

Jam 10 sudah lewat. Acara sedikit molor dari rencana karna perjalanan rombongan  Jakarta tersendat.

Acara diawali dengan sambutan Founder Blogger Muslimah Mbak Novia Syahidah . Panggilan akrabnya "Uni" karna asal Sumatera Barat. 
Siapa kami dan maksud kunjungan pun diutarakan. Di susul dengan perkenalan masing-masing anggota .
Semua berjalan lancar dan akrab di ruang depan berkarpet dengan suguhan kue has Bogor. Terimakasih Nisa :)
Dan sampailah pada inti acara yang kami nanti. Nisa menceritakan perjalanan usahanya.

Foto Mutiah Ohorella.


AWAL USAHA

Nisa tidak langsung bikin tas. Tapi sebelumnya bergabung dengan teman teman kampus IPB memproduksi boneka Holtikultura. Pemasaran masih di sekitar kampus dan moment tertentu.
Tapi penghasilannya lumayan bagus.

Saya sangat percaya bahwa mempelajari kekurangan dan kesulitan orang lain akan menumbuhkan ide berbisnis. Nisa mengalaminya. Tiap menjaga toko ia perhatikan dosen dan mahasiswa banyak menggunakan kantong plastik belanja untuk membawa dokument. Atau tas bekas seminar yang bagian tulisannya mereka balik ke arah badan.

Ide timbul, semangat juga timbul. Apalagi setelah tahu  salah seorang pelayan toko mahir menjahit.
Dari 10 tas sample (Untuk Display) akhirnya berkembang terus sampai butuh pekerja lebih banyak.

PAHIT MANIS WIRAUSAHA

Foto Mutiah Ohorella.

Sempat kami ngobrol berdua. Lalu terlepaslah kata kata saya tentang produk rumahan yang tengah mandek "Bikin produknya gampang, pemasarannya yang susah!"
Sambil senyum Nisa menjawab lembut, "Jangan katakan susah, nanti Allah benar-benar akan membuatnya susah!"
Nasehat pendeknya sangat membekas. Memang beda yaa, kalau yang bicara sudah mengalami sendiri. Bisa jadi itu salah satu prinsip yang membuatnya sukses.

Memang ia pernah menahan sedih ketika harus berpisah dengan teman-teman pengelola boneka. Pernah alami kerugian ulah distributor ingkar janji. Dan puncaknya ketika tas-tas 1 kamar belum juga terjual. Bagaimana nasib usaha? Bagaimana dapur pekerja?

Tapi hasil tak pernah menghianati usaha. Ihtiar dan sabar selalu berbayar janji Allah. 
Postingan blog tentang produknya menduduki tempat teratas di google. Trans TV memilih Nisa sebagai panutan dalam acara rutin mereka "Bosan Jadi Pegawai" dalam 1 jam tayang.
Kontan si tas "Heejou" dikenal masyarakat luas. Kepercayaan tumbuh dan pesanan bertubi tubi datang. Alhamdulillah... Semangat pun kembali berkorbar  dan makin percaya diri.

Rumah di atas lahan luas itu sudah jadi milik Nisa. Tenaga kerja terus bertambah hingga 17 orang. Meski demikian gadis yang masih memendam cita-cita ingin punya sekolah ini, pembawaannya tetap sederhana, membumi, dan lembut.

TIPS MENJALANKAN USAHA

1. Pencitraan

Pencitraan perlu. Bagaimana orang akan  kenal produk kita jika hanya dari mulut ke mulut?
Gunakan media sosial dengan optimal. Off line mau pun on line harus dijadikan sarana promosi.
Di samping itu, tingkatkan terus kwalitas barang.

2. Rela Irit

Demi meminimalisir biaya, Nisa cari pekerja dari orang terdekat .
Disiplin dan tertib pembukuan adalah penting. Tidak heran bila suntikan dana 100 juta  malah awet tidak terpakai. Omzet pun pernah menyentuh angka yang lumayan.

3. Perhatikan Selera pasar

Tak segan-segan ia mencari ide lewat, pekerja, pembeli mau pun distributor.
Saat saya beli tas, pilihan jatuh pada tas kecil bartali panjang dengan kantong luar tertutup.
Nisa tanya, "Kenapa ibu pilih tas ini?"
Baru sekali lho, saya dapat pertanyaan seperi itu! 
Dan saya jawab... "Tas ini cocok buat ke ATM. Isinya cukup untuk Ponsel, dompet, dan kacamata. Tali panjang sangat memudahkan saat saya harus menjinjing 2 tas belanja. Sedang kantong luar untuk simpan daftar belanja. Saya tidak perlu lagi buka dompet inti"
Nisa mengangguk angguk faham. Kelihatan agak suprise dengan jawaban saya.

4.  Ikut Komunitas

Nisa menyarankan hendaknya  wirausaha ikut komunitas. Menjadi anggotanya seperti dibimbing pelatih terjun payung handal penguasa medan yang tak mungkin mencelakai.
Mereka bukan pesaing, malah saling berkait satu sama lain. Bila ada pekerjaan yang tak sanggup diselesaikan, produk bisa dilempar ke anggota lain. Bagi bagi rejeki.
Bukan hanya informasi toko bahan murah saja yang di dapat, berapa harga jual di pasaran, dan bagaimana strategi pemasaran pun bisa.

Cuma pesan Nisa, jangan langsung minta segala begitu jadi anggota. Baiknya berbuat dan banyak manfaat dulu buat yang lain. 

PROSES PEMBUATAN TAS


Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.Foto Mutiah Ohorella.


Tentu kunjungan tidak sempurna tanpa lihat proses pembuatan. Di ruang garasi ada 5 mesin jahit. 
Seorang ibu tengah teliti menjahit sambil pegang kuat bahan. Konon bagian tali tas paling rumit. 
Sementara di ruang lain memasang resleting , label. mengukur dan memotong. Nyaris tanpa suara apalagi canda. Kami asik berkeliling, ambil gambar, sekaligus belanja hingga tak terasa waktu zuhur datang.

KELEBIHAN TAS HEEJOU



Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Agara lebih percaya diri, pedagang perlu tahu detil tentang kelebihan dan kekurangan produknya dibanding produk lain.
Jahitan tas Heejou halus rapih. Ujung kiri kanan lapisan dalam diberi bahan tebal kokoh. Ini bagian  yang paling sering terlepas jahitannya, ahirnya bolong di pinggir. 

Rasanya belum cukup lihat dan tanya-tanya. Sisa waktu satu setengah jam hanya bisa untuk sholat, makan siang dan bikin Craft Bunga Tulip.
Mbak Neny  ajari kami membuat bunga tulip dari kain perca. Mengerjakannya penuh guyon sampai tak terasa sebentar lagi jam kerja habis.
Sebelum foto bersama, kami dikejutkan dengan bingkisan keren dari Nisa. Horeee!!  2 clutch cantik terbungkus rapih buat kami. 

Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.

Alhamdulillah, semoga Heejou makin ngetop dan laris.
Terimakasih  Mbak Nova dan Mbak Neny atas keihlasannya menggiring kami untuk belajar. 
Terimakasih atas semua ilmu dan nasehatnya, Nisa Rakhmania, pengusaha muslimah dari Bogor.



Foto Mutiah Ohorella.























Thursday, 5 October 2017

Pesan Pak Gendu




Image result for foto pak gendu


Nggak pernah sekali pun membayangkan bakal duduk di tengah pasien penderita gangguan jiwa.
Ini gara gara mendampingi Ibu Iyah instruktur craft yang dipercaya Departemen Sosial untuk membina mereka.

Sebenernya dari rumah sudah deg-degan. Tapi bismillah aja deh!
Toh cuma sehari, dan di sana pasti ada yang mengawasi.

Naik kereta pagi  lewati 20 stasiun, dilanjut 1 kali Grab bike, 2 kali angkot , baru sampai di lokasi panti, Yayasan Galuh, Rawa Lumbu-Kranji.
Di pos gerbang ada penjaga berpakaian lusuh. Itu satpam atau...?

Gerbang besi tinggi terbuka biasa, sepertinya yakin betul penghuni panti nggak bakal kabur.
Sambil tahan perasaan aneh yang tiba tiba muncul, saya terus seberangi lapangan cukup luas menuju aula pelatihan. Lengang,  mungkin habis sarapan mereka kumpul-kumpul di kamar.

Benar juga! Pas tengok ke kanan, terjawab perasaan aneh tadi!
Di sisi tembok tinggi yang saya kira  kosong, ternyata di koridor sempitnya banyak mata kosong menatap gerak saya . Beberapa orang diam dingin, sebagian senyum lebar sambil teriak "Buu, minta rokok!"

Hanya pasien tertentu yang boleh di luar. Mereka masih  bisa terima intruksi dan mau belajar.
Peserta pelatihan 20 orang perempuan dan 6 pria . Kali ini  membuat keset dari limbah. Sebagian sudah cekatan menyelesaikan, sebagian lagi lamban bahkan  meninggalkan pekerjaan begitu saja dan saya yang meneruskan.
Kadang senyum dengar celetukan dan keluhan mereka. Kalau ada yang datang duduk tenang membantu, tandanya dia mau curhat dan ujung ujungnya minta uang 2000 buat beli es. Betapa berharganya si 2000 rupiah yang dipandang sebelah mata kalau tergeletak di meja rumah. Mereka  iri lihat teman sruput minuman dingin dlm plastik atau berjalan pelan bawa kopi panas.
Baru punya duit kalau dijenguk keluarga, dan itu jarang banget!


Asih umur 12 tahun suaranya cempreng, selalu teriak. Dia dijanjikan Bu Iyah sebotol minyak rambut biar rambut tidak lengket lagi. Segera tutup muka waktu saya mau foto. Tapi tetap minta hasilnya.

Ada juga Rinna asal Bogor. Ngakunya dendam pada suami, berkali kali dengan suara pelan minta saya telepon keluarganya.
Desi berkaos orange kulit mukanya manis,  halus, badan bersih. Nggak berhasil merayu saya pinjam hp. Dulu dia pemain band  berjilbab.

"Kenapa dilepas jilbabnya?"
"Ah, jilbab kan universal!" Jawabnya
 Dia tutup obrolan dengan minta rokok. Sementara saya masih mikir, apa maksud jawabannya.

Banyak yang datang curhat, tapi selalu temannya datang mengklaim bahwa  yang curhat tadi berbohong. Kasus sebenarnya bla..bla..bla..
saya sempat terbawa alur cerita. Lupa dengan siapa saya bicara?
Pak Jaja yang tau persis penyebab mereka di situ.

Tetiba 2 orang datang berlari dari arah kantor, sambil teriak, "Horreee! Bulan Desember boleh pulang! Sayang, cuma hayalan!

Sirine makan siang diundur sampai  pengajar selesai makan. Nggak enak juga ditunggu begitu, jadi secepatnya saya santap nasi rames padang yang saya beli sendiri. Setelah itu lihat pemandangan baru! 485 orang berbaris antri makan.
Hanya satu orang yang bertahan tidur di kursi taman sejak pagi.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.
Foto Mutiah Ohorella.

Yayasan dipimpin Pak Jaja sejak ayahnya ( Pak Gendu ) wafat. Almarhum  berani mendirikan yayasan ini karna prihatin banyak penderita di jalanan.
Awalnya cuma 10 orang menempati  bangunan gerdek.
Di tayangan tv pak Gendu sabar ihlas memandikan bahkan menyuapi.

Sumbangan sosial rutin mau pun kagetan sudah merubah gubuk jadi gedung megah, bersih dan teratur. Ada nggak teganya juga sih,  kalau lihat kamar luas full jeruji. Tapi itu pilihan terbaik menghindari kejadian buruk.




Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.



Begitulah, dari kesibukan dapur, musholla kosong, aduan pasien ke Pak Jaja tentang hal yang tidak pantas terjadi di kamar mandi , tatapan kosong di bale-bale rumah pengurus, sampai cekikikan 2 sejoli  di seberang meja yang pamer aurat, dan macam macam lagi.

Pemantik rasa syukur ada di mana-mana.
Perangkat akal budi yang sudah dibekali Allah adalah kenikmatan besar.
Jadi pendengar yang baik , berfikir sebelum berucap, kata-kata penuh manfaat, malu meminta, punya ukuran suara, bicara jujur, semuanya tanda sehat jiwa.

Di antara rentetan doa, selalu  minta Allah baguskan ahlak saya. Mohon didekatkan dengan orang-orang saleh. Saya lupa, Allah lebih tahu bagaimana cara menasehati saya!

Lewat seminggu, masih saja terasa aura panti. Sebelum pulang sempat lihat  Ambulance parkir tanda semua pasien harus disuntik lalu bagi-bagi obat. Tanpa itu, suasana bakal berisik.
1 mobil lain milik 1 keluarga. Mereka menuju kantor. Pak Jaja beritahu,  pemuda berwajah segar, kulit bersih, kontras dengan jaket parasut biru tua dan tas ransel hitam, adalah pasien baru.

Saya berharap dia tidak bercampur dengan penderita berat.

Banyak lagi tempat yang bisa kita kunjungi, tempat kita mencoba  membahagiakan orang lain, seperti pesan Pak Gendu...

"Bahagiakan orang lain, kalau ingin diri kita bahagia"


Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.












Thursday, 7 September 2017

Kembali PadaMU


Lama ya, nggak nulis-nulis. Padahal membludak bahan tulisan. Misalnya kegiatan sosial  setelah ramadhan. Banyak ide-ide baru buat mengambil "Hati" Allah secara sembunyi atau terang-terangan, dengan waktu yang sedikit tapi meraih keuntungan besar. Si ide  tentu nggak timbul sendiri.
Teman, saudara, tetangga dan kejadian selintas di jalan semua bisa jadi sumber.

Tapi ya gitu, begitu mau nulis, mata kriyep-kriyep atau lain hal. Sudah sedia laptop sementara mesin cuci muter, angin sedap masuk dari jendela, tapi pak suami ngajak ngobrol.
Pernah juga semangat besar datang. Lumayan 1/4 halaman terisi, ehhh!! entah keypad mana yang kesenggol, byaaarr !! Tulisan hilang semua. Ngetik kayak pakai sarung tinju.

Hari ini saya coba lagi. Sebab kemarin punya pengalaman mengejutkan. Nggak pernah terbayangkan nasehat Allah datang bertubi. *Speechless

Pagi-pagi sudah siap ke Jakarta dengan perasaan sedih. Adik sepupu bapak meninggal semalam jam 11. Almarhumah banyak mengisi kenangan kanak-kanak saya. Darinya saya kenal dan langsung jatuh cinta pada warung. Pemandangan paling asik kalau datang ke rumahnya lalu ia mengeluarkan uang seringgit ( Dua Setengah Rupiah) dari selipan stagen.
Dia tidak melarang saya melihat kuda tetangganya berguling di abu, boleh nonton TV tetangganya, dll.
Di ahir kisah takdir, saya sangat ingin mengurus jenazahnya, dan Alhamdulillah, Allah izinkan sampai mensholatinya.

Keranda pergi hanya membawa cinta dan doa. Saya harus segera  ke rumah sakit jenguk Tante Leila  yang tengah koma. Tapi belum lagi keluar dari rumah duka, berita datang. 2 Oom saya rumahnya terbakar.

Harus saya saksikan 2 air mata kehilangan  berbeda namun sama menusuk, 2 karunia yang mudah lengket di hati  kalau nggak rajin mengingatkan diri  bahwa cuma "Titipan"
1 RT terbakar, dan api cuma butuh waktu 5 menit untuk melahap 1 rumah. Nggak tega lihat keponakan cuma punya satu baju pramuka yang melekat di badan.

Masih sedikit melamun waktu keluar dari bangunan hitam tanpa atap. Langkahi kayu hitam basah dan pecahan beling.  Tetiba WA kirim 2 berita. Ibu ke 2 saya tertusuk kayu sate hingga harus ke dokter dan Tante Lei meninggal.

Termenung lagi di rumah duka ke 2. Sejam kemudian tetangga almarhumah meninggal juga.
Apa pernah 2 sahabat berkelakar ingin wafat pada hari yang sama? Cuma pertanyaan iseng. Untuk menutupi galau saya waktu menutupi jenazah dengan kain batik, di bawah kain jemari anak almh yang bermata bengkak itu perlahan menggunting baju.
Tempat pemandian di teras masih basah, ada sedikit bunga menempel bekas sahabat. Tak lama, pelayat serentak pindah dari bibir jalan, keranda dan rombongan mau lewat. 2 lubang sedang digali di taman yang sama.

Sibuk sekali malaikat yaa.. Musibah di punggung, sementara kita masih bercanda dengan angan.
Kalau lihat hamparan nisan, mereka dulu pembuat status, pengukir angan, perancang cita, Lalu diputus petugas yang nggak pernah terlibat dengan waktu dan lapar.
Segala sesuatu kembali padaMu...









Wednesday, 23 August 2017

Sepotong Tulisan Pidi Baiq


Dia penulis pujaan yang menyebalkan.
Patahan unek-uneknya  bikin enek, tapi menuai senyum lebar.
Hari ini dia menulis...

Mengapa istri harus bisa masak?
Padahal itu rumah tangga
Bukan rumah makan!

(Pidi Baiq 1972- 2098)

*PD banget dengan umur ya


Betul! Setuju, sepaham, sepengertian dengan saya jaman baheula. Plis, para lelaki  jangan menuntut banyak deh!
Saya mendamba  dapat suami yang super mengerti, super menerima, dan kalau bisa  hobby masak sekalian!

(Eh, tetiba inget cerita obrolan 2 perempuan.
"Aku mau suami yang sabar, setia, mengerti apa yang aku mau, menerima aku apa adanya, kemana aku pergi dia mau menemani"
Lawan bicaranya menjawab dengan santai ... " Piara anjing saja!")


2 bulan setelah menikah dan mendekati perpisahan dengan ibu bapak, pertanyaan muncul.
Bisa apa saya? Cuma masak nasi goreng dadakan doang.
Memang sih, alhamdulillah banget Allah kabulkan keinginan punya suami hobby masak, tapi apa pantas dilayani suami? Masing masing pasti punya tugas yang pas.
Jadi saya beli beberapa buku resep sebelum diboyong ke pulau jauh. Nggak sangka pelan- pelan timbul sendiri keinginan membahagiakan perut suami.

Satu hari ceritanya mau bikin suprise. Saya ingat di masa pacaran pak suami pernah ketelepasan bilang,  kalau ibunya masak tumis Sayur Genjer dan tempe goreng, makannya pasti gembul.

Di dapur kontrakan saya masak menu itu sambil sesekali tengok buku. Perasaan kok lama banget ngerjainnya. Sandiwara Saur Sepuh di radio tetangga sampai sudah kelar, masakan 3 macam belum finish.
Panik juga waktu denger suara motor di teras, dia memang selalu pulang di jam makan siang.
Selain kesian dengan saya yang belum kenal tetangga ( Hehe, yakiiin??), ada niat ngirit juga.
Tanpa icip-icip kami langsung makan,  saya PD banget dengan tu resep. Toh sudah diuji coba di dapur penerbit.

Hampuuun...  Asinnya keterlaluan! Masakan apaan kayak gini?
Suami berusaha menghibur , tapi saya tetap kesel campur nyesel! Hidup lagi ngirit, kok malah buang sayur fresh sepenggorengan?

Baru tau lho, kalau bumbu taucho buat tumisan  ada dua macam. Asin dan tawar.
Taucho yang saya beli sudah asin, trus ditambah garam pula!

Tetap semangat masak setelah musibah itu. Sampai anak anak besar, kemampuan masak  biasa-biasa saja. Cuma satu hal  hampir  luput dari perhatian. Ada pertolongan Allah!
Dari beberapa menu kebisaan seorang ibu yang bodoh masak sekali pun, pasti ada beberapa yang jadi menu favorite keluarga. Mampu membentuk kangen saat suami dan anak jauh. Buktikan deh!

Jadi, biar saja ocehan si Baiq. Dia hanya mewakili sedikit perempuan lajang yang masih menganggap rumah tangga itu merepotkan.
Punteun yeuh, Kang!














Jangan Lewatkan Masa Penting


Ini sudah setahun, bapak baru kena flu lagi, normal saja sebetulnya.
Cuma hawatirnya karna baru kali ini di usia kepala 9 tensi darah bapak naik.
Perkiraan dokter akibat kebiasaan begadangnya menghabiskan bacaan.

Saya jenguk bapak jelang magrib, rumahnya semua gelap. Di teras ada antaran makanan entah dari siapa?
Ibu warung di seberang yakin bapak ada, sebab yang terlihat pergi  siang tadi hanya ibu dan adik (tiri).

Sambil deg-degan "Netting" ( Negativ thinking), saya coba panggil. Alhamdulillah bapak menyahut sambil terbatuk.
Lalu anugerah cinta Allah yang dititipkan ke bapak  saya nikmati lewat mata cerahnya  waktu pintu terkuak

Sehabis sholat dan menemani bapak makan, kami nonton curhat sesal veteran Belanda pada masa okupasi paska Jepang hengkang. Saya tahu, meski semangat tapi sebetulnya bapak ngantuk akibat reaksi obat batuk.

Diam diam saya mengutuk, banyak kesempatan terlewat karna prioritas, kesibukan, dan segala macam. Padahal beliau yang duduk di samping saya ini kerap menyimpan rindu dan banyak menaikkan doa. Doa yang sewarna dengan doa saya buat anak-anak di tempat jauh.

"Bapak tidur dulu" Katanya.
Tapi bajunya basah keringat. Kali ini saya minta bapak menurut. Tidur dengan baluran minyak kayu putih dan baju bersih pasti lebih nyaman.
Saya dengan adik yang kebetulan baru datang, sama sama merapihkan bapak.


Sampai saya pulang, bapak masih tidur. Biasanya setiba di rumah bapak langsung cek apa saya sudah sampai atau belum? Kali ini ibu yang telepon pagi pagi hanya untuk sampaikan...
" Bapak bilang, biar pun di kamar, bapak bahagia dengar suara anak-anak di luar"

Fabiayyi alaa i rabbikumaa tukazzibaan





Monday, 7 August 2017

Lakukan Saja..



Lakukan saja, dan jadilah!
Hanya melakukan ahirnya menemukan

Hidup  bukan nyanyian alam yang melahirkan tenteram
ulah keteraturan dan kepastian
Tak pernah bertanya 
Tak pernah menunggu jawab

Hidup bukan rangkaian pencarian
Tapi rangkaian penemuan

Tak selalu bahagia.
Sedekahkan satu senyum 

Gejolak perbedaan, riuh kepalsuan,
adalah batu 
Bernyaman saja dalam sarung
Bila ingin jadi pisau emas terbuang

.....*Ketika usia menapaki tangga kadaluarsa



















Saturday, 1 July 2017

Belajar Dari Lesley




Suaranya berat tapi masih kedengaran suara wanitanya.
Kalau lihat langsung baru tahu pemilik suara bariton itu berwajah cantik secantik gerak tangannya yang feminin.

Keteduhannya berubah riuh waktu dia kupas satu satu bagaimana mempesonanya "Pria" dambaan yang jadi pusat perhatiannya bertahun. Kedalaman cintanya ia simpan di tiap huruf. Berharap pembaca turut menikmati tetesan sejuk prilakunya.

Lesley Hazelton membuat saya malu, banyak menulis tapi bukan tentang manusia mulia itu.
Banyak beshalawat, banyak rindu, tapi tak berdakwah bil hal.

Kesantunan dalam keberagaman inti paparan Lesley di satu tayangan yang nggak sengaja saya temukan.
Saya jadi berfikir...

Banyak seruan berbagai LSM untuk menjaga kelestarian alam
Sebetulnya santun pada alam dimulai dari santun pada diri sendiri dan orang lain. Mampu jaga hati manusia dalam  keberagamannya
Perkataan manfaat  mengakar harus diusahakan, agar tambah lagi satu pohon di saat perusak merajalela.

Semakin cerdas manusia, semakin sadar tugas di bumi adalah menjaga perjanjian dengan Rabb.
Ilmu yang di dapat jangan jadi tembok kegagahan.

Kelembutan makin penting di zaman fitnah seperti ini, di samping sikap tegas keras menahan laju fitnah.
Berani tolak berita  orang fasik. penyubur kebencian dan kebodohan.


Lesley  banyak membaca quran, namun menyebut dirinya sebagai out sider. Ia melancong meraup pengalaman terindah saja.
Jadi jelas kan ya, bahwa di atas segala kemuliaan dan kehebatan, tetap yang namanya "Hidayah" is number one! Semoga akan turun untuknya, someday...

Orang yang paling merasa aman, seperti pisau dalam sarung. Bentuknya bagus tapi  nggak terpakai, percuma! Mending pisau jelek  yang tajam.
Pisau perlu batu asah, dan alat asah manusia adalah manusia lainnya.


Harus lebih banyak lagi bersyukur atas hadiah "Ddiin" dari Allah.
Tanda syukur kita adalah siap menerima buram sebagaimana kesiapan menerima cerah.
Muslim tengah tersudut. Sulit membela diri.
Anggap saja kita sedang menjaga sebuah tempat buruk  berisi kekayaan.
Harus mampu menjawab dengan lembut agar pengunjung mau memasukinya.

Lihat, mukjizat perkataan Rasul dan kaum salaf telah terpampang jelas sekarang ini!


Akan datang satu masa
Aku hawatir dengan masa itu.

Keyakinan tinggal dalam fikiran
Keimanan tak berbekas dalam perbuatan
Banyak orang baik tapi tak berakal
Berakal tapi tak beriman

Ahli maksiat tapi rendah hati
Berlisan bijak tapi tak memberi teladan
Pelacur jadi figur

Berilmu tapi tak faham 
Faham tapi tak menjalankan 
Pintar tapi membodohi 
Badoh tapi tak tahu diri

Beragama tapi tak berahlak
Berahlak tapi tak bertuhan