Thursday, 7 September 2017

Kembali PadaMU


Lama ya, nggak nulis-nulis. Padahal membludak bahan tulisan. Misalnya kegiatan sosial  setelah ramadhan. Banyak ide-ide baru buat mengambil "Hati" Allah secara sembunyi atau terang-terangan, dengan waktu yang sedikit tapi meraih keuntungan besar. Si ide  tentu nggak timbul sendiri.
Teman, saudara, tetangga dan kejadian selintas di jalan semua bisa jadi sumber.

Tapi ya gitu, begitu mau nulis, mata kriyep-kriyep atau lain hal. Sudah sedia laptop sementara mesin cuci muter, angin sedap masuk dari jendela, tapi pak suami ngajak ngobrol.
Pernah juga semangat besar datang. Lumayan 1/4 halaman terisi, ehhh!! entah keypad mana yang kesenggol, byaaarr !! Tulisan hilang semua. Ngetik kayak pakai sarung tinju.

Hari ini saya coba lagi. Sebab kemarin punya pengalaman mengejutkan. Nggak pernah terbayangkan nasehat Allah datang bertubi. *Speechless

Pagi-pagi sudah siap ke Jakarta dengan perasaan sedih. Adik sepupu bapak meninggal semalam jam 11. Almarhumah banyak mengisi kenangan kanak-kanak saya. Darinya saya kenal dan langsung jatuh cinta pada warung. Pemandangan paling asik kalau datang ke rumahnya lalu ia mengeluarkan uang seringgit ( Dua Setengah Rupiah) dari selipan stagen.
Dia tidak melarang saya melihat kuda tetangganya berguling di abu, boleh nonton TV tetangganya, dll.
Di ahir kisah takdir, saya sangat ingin mengurus jenazahnya, dan Alhamdulillah, Allah izinkan sampai mensholatinya.

Keranda pergi hanya membawa cinta dan doa. Saya harus segera  ke rumah sakit jenguk Tante Leila  yang tengah koma. Tapi belum lagi keluar dari rumah duka, berita datang. 2 Oom saya rumahnya terbakar.

Harus saya saksikan 2 air mata kehilangan  berbeda namun sama menusuk, 2 karunia yang mudah lengket di hati  kalau nggak rajin mengingatkan diri  bahwa cuma "Titipan"
1 RT terbakar, dan api cuma butuh waktu 5 menit untuk melahap 1 rumah. Nggak tega lihat keponakan cuma punya satu baju pramuka yang melekat di badan.

Masih sedikit melamun waktu keluar dari bangunan hitam tanpa atap. Langkahi kayu hitam basah dan pecahan beling.  Tetiba WA kirim 2 berita. Ibu ke 2 saya tertusuk kayu sate hingga harus ke dokter dan Tante Lei meninggal.

Termenung lagi di rumah duka ke 2. Sejam kemudian tetangga almarhumah meninggal juga.
Apa pernah 2 sahabat berkelakar ingin wafat pada hari yang sama? Cuma pertanyaan iseng. Untuk menutupi galau saya waktu menutupi jenazah dengan kain batik, di bawah kain jemari anak almh yang bermata bengkak itu perlahan menggunting baju.
Tempat pemandian di teras masih basah, ada sedikit bunga menempel bekas sahabat. Tak lama, pelayat serentak pindah dari bibir jalan, keranda dan rombongan mau lewat. 2 lubang sedang digali di taman yang sama.

Sibuk sekali malaikat yaa.. Musibah di punggung, sementara kita masih bercanda dengan angan.
Kalau lihat hamparan nisan, mereka dulu pembuat status, pengukir angan, perancang cita, Lalu diputus petugas yang nggak pernah terlibat dengan waktu dan lapar.
Segala sesuatu kembali padaMu...









Wednesday, 23 August 2017

Sepotong Tulisan Pidi Baiq


Dia penulis pujaan yang menyebalkan.
Patahan unek-uneknya  bikin enek, tapi menuai senyum lebar.
Hari ini dia menulis...

Mengapa istri harus bisa masak?
Padahal itu rumah tangga
Bukan rumah makan!

(Pidi Baiq 1972- 2098)

*PD banget dengan umur ya


Betul! Setuju, sepaham, sepengertian dengan saya jaman baheula. Plis, para lelaki  jangan menuntut banyak deh!
Saya mendamba  dapat suami yang super mengerti, super menerima, dan kalau bisa  hobby masak sekalian!

(Eh, tetiba inget cerita obrolan 2 perempuan.
"Aku mau suami yang sabar, setia, mengerti apa yang aku mau, menerima aku apa adanya, kemana aku pergi dia mau menemani"
Lawan bicaranya menjawab dengan santai ... " Piara anjing saja!")


2 bulan setelah menikah dan mendekati perpisahan dengan ibu bapak, pertanyaan muncul.
Bisa apa saya? Cuma masak nasi goreng dadakan doang.
Memang sih, alhamdulillah banget Allah kabulkan keinginan punya suami hobby masak, tapi apa pantas dilayani suami? Masing masing pasti punya tugas yang pas.
Jadi saya beli beberapa buku resep sebelum diboyong ke pulau jauh. Nggak sangka pelan- pelan timbul sendiri keinginan membahagiakan perut suami.

Satu hari ceritanya mau bikin suprise. Saya ingat di masa pacaran pak suami pernah ketelepasan bilang,  kalau ibunya masak tumis Sayur Genjer dan tempe goreng, makannya pasti gembul.

Di dapur kontrakan saya masak menu itu sambil sesekali tengok buku. Perasaan kok lama banget ngerjainnya. Sandiwara Saur Sepuh di radio tetangga sampai sudah kelar, masakan 3 macam belum finish.
Panik juga waktu denger suara motor di teras, dia memang selalu pulang di jam makan siang.
Selain kesian dengan saya yang belum kenal tetangga ( Hehe, yakiiin??), ada niat ngirit juga.
Tanpa icip-icip kami langsung makan,  saya PD banget dengan tu resep. Toh sudah diuji coba di dapur penerbit.

Hampuuun...  Asinnya keterlaluan! Masakan apaan kayak gini?
Suami berusaha menghibur , tapi saya tetap kesel campur nyesel! Hidup lagi ngirit, kok malah buang sayur fresh sepenggorengan?

Baru tau lho, kalau bumbu taucho buat tumisan  ada dua macam. Asin dan tawar.
Taucho yang saya beli sudah asin, trus ditambah garam pula!

Tetap semangat masak setelah musibah itu. Sampai anak anak besar, kemampuan masak  biasa-biasa saja. Cuma satu hal  hampir  luput dari perhatian. Ada pertolongan Allah!
Dari beberapa menu kebisaan seorang ibu yang bodoh masak sekali pun, pasti ada beberapa yang jadi menu favorite keluarga. Mampu membentuk kangen saat suami dan anak jauh. Buktikan deh!

Jadi, biar saja ocehan si Baiq. Dia hanya mewakili sedikit perempuan lajang yang masih menganggap rumah tangga itu merepotkan.
Punteun yeuh, Kang!














Jangan Lewatkan Masa Penting


Ini sudah setahun, bapak baru kena flu lagi, normal saja sebetulnya.
Cuma hawatirnya karna baru kali ini di usia kepala 9 tensi darah bapak naik.
Perkiraan dokter akibat kebiasaan begadangnya menghabiskan bacaan.

Saya jenguk bapak jelang magrib, rumahnya semua gelap. Di teras ada antaran makanan entah dari siapa?
Ibu warung di seberang yakin bapak ada, sebab yang terlihat pergi  siang tadi hanya ibu dan adik (tiri).

Sambil deg-degan "Netting" ( Negativ thinking), saya coba panggil. Alhamdulillah bapak menyahut sambil terbatuk.
Lalu anugerah cinta Allah yang dititipkan ke bapak  saya nikmati lewat mata cerahnya  waktu pintu terkuak

Sehabis sholat dan menemani bapak makan, kami nonton curhat sesal veteran Belanda pada masa okupasi paska Jepang hengkang. Saya tahu, meski semangat tapi sebetulnya bapak ngantuk akibat reaksi obat batuk.

Diam diam saya mengutuk, banyak kesempatan terlewat karna prioritas, kesibukan, dan segala macam. Padahal beliau yang duduk di samping saya ini kerap menyimpan rindu dan banyak menaikkan doa. Doa yang sewarna dengan doa saya buat anak-anak di tempat jauh.

"Bapak tidur dulu" Katanya.
Tapi bajunya basah keringat. Kali ini saya minta bapak menurut. Tidur dengan baluran minyak kayu putih dan baju bersih pasti lebih nyaman.
Saya dengan adik yang kebetulan baru datang, sama sama merapihkan bapak.


Sampai saya pulang, bapak masih tidur. Biasanya setiba di rumah bapak langsung cek apa saya sudah sampai atau belum? Kali ini ibu yang telepon pagi pagi hanya untuk sampaikan...
" Bapak bilang, biar pun di kamar, bapak bahagia dengar suara anak-anak di luar"

Fabiayyi alaa i rabbikumaa tukazzibaan





Monday, 7 August 2017

Lakukan Saja..



Lakukan saja, dan jadilah!
Hanya melakukan ahirnya menemukan

Hidup  bukan nyanyian alam yang melahirkan tenteram
ulah keteraturan dan kepastian
Tak pernah bertanya 
Tak pernah menunggu jawab

Hidup bukan rangkaian pencarian
Tapi rangkaian penemuan

Tak selalu bahagia.
Sedekahkan satu senyum 

Gejolak perbedaan, riuh kepalsuan,
adalah batu 
Bernyaman saja dalam sarung
Bila ingin jadi pisau emas terbuang

.....*Ketika usia menapaki tangga kadaluarsa



















Saturday, 1 July 2017

Belajar Dari Lesley




Suaranya berat tapi masih kedengaran suara wanitanya.
Kalau lihat langsung baru tahu pemilik suara bariton itu berwajah cantik secantik gerak tangannya yang feminin.

Keteduhannya berubah riuh waktu dia kupas satu satu bagaimana mempesonanya "Pria" dambaan yang jadi pusat perhatiannya bertahun. Kedalaman cintanya ia simpan di tiap huruf. Berharap pembaca turut menikmati tetesan sejuk prilakunya.

Lesley Hazelton membuat saya malu, banyak menulis tapi bukan tentang manusia mulia itu.
Banyak beshalawat, banyak rindu, tapi tak berdakwah bil hal.

Kesantunan dalam keberagaman inti paparan Lesley di satu tayangan yang nggak sengaja saya temukan.
Saya jadi berfikir...

Banyak seruan berbagai LSM untuk menjaga kelestarian alam
Sebetulnya santun pada alam dimulai dari santun pada diri sendiri dan orang lain. Mampu jaga hati manusia dalam  keberagamannya
Perkataan manfaat  mengakar harus diusahakan, agar tambah lagi satu pohon di saat perusak merajalela.

Semakin cerdas manusia, semakin sadar tugas di bumi adalah menjaga perjanjian dengan Rabb.
Ilmu yang di dapat jangan jadi tembok kegagahan.

Kelembutan makin penting di zaman fitnah seperti ini, di samping sikap tegas keras menahan laju fitnah.
Berani tolak berita  orang fasik. penyubur kebencian dan kebodohan.


Lesley  banyak membaca quran, namun menyebut dirinya sebagai out sider. Ia melancong meraup pengalaman terindah saja.
Jadi jelas kan ya, bahwa di atas segala kemuliaan dan kehebatan, tetap yang namanya "Hidayah" is number one! Semoga akan turun untuknya, someday...

Orang yang paling merasa aman, seperti pisau dalam sarung. Bentuknya bagus tapi  nggak terpakai, percuma! Mending pisau jelek  yang tajam.
Pisau perlu batu asah, dan alat asah manusia adalah manusia lainnya.


Harus lebih banyak lagi bersyukur atas hadiah "Ddiin" dari Allah.
Tanda syukur kita adalah siap menerima buram sebagaimana kesiapan menerima cerah.
Muslim tengah tersudut. Sulit membela diri.
Anggap saja kita sedang menjaga sebuah tempat buruk  berisi kekayaan.
Harus mampu menjawab dengan lembut agar pengunjung mau memasukinya.

Lihat, mukjizat perkataan Rasul dan kaum salaf telah terpampang jelas sekarang ini!


Akan datang satu masa
Aku hawatir dengan masa itu.

Keyakinan tinggal dalam fikiran
Keimanan tak berbekas dalam perbuatan
Banyak orang baik tapi tak berakal
Berakal tapi tak beriman

Ahli maksiat tapi rendah hati
Berlisan bijak tapi tak memberi teladan
Pelacur jadi figur

Berilmu tapi tak faham 
Faham tapi tak menjalankan 
Pintar tapi membodohi 
Badoh tapi tak tahu diri

Beragama tapi tak berahlak
Berahlak tapi tak bertuhan








Bagaimana Ramadhanku-mu?



Image result for ramadhan pergi



Beberapa jam lagi, ramadhan melambai.
Padatkan waktu dengan permohonan ampun
Dalamkan makna doa.


Ini lapar ke 29 di  bulan kariim
Semoga terbayar tunai saat antri di yaumil masyhar tanpa aqua, apalagi lontong isi!

Lapar orang lain adalah tawaran beramal.
Makin menghargai setiap bulir nasi.
Tak sekedar pelengkap yang dihadapi dengan ngobrol, canda  tawa
Pengingat syukur lewat keringat petani, penggiling, sopir, dari berbagai penjuru sampai ketemu di satu piring


Nikmati gembira berbuka akhir
Mohon diizinkan muncul kembali dengan kelipatan tinggi
Saat menatap wajahNya

Esok tak ada tarawih
Surat al qadr penghias 10 malam, lenyap dari menara
Kita bawa saja ke bilik rumah
toh cahayanya ada di mana-mana
tergantung besarnya kapasitas jangkauan hati.
Sinyal ada terus, mudah kita bagi ke tetangga dan saudara


Pahit manis ramadhan, hikmah sepanjang tahun.
Rabb kita beri pesan husus untuk setiap diri
Asal mau teliti

Tahun ini ramadhan terasa pendek yaa
Kata orang sibuk

Jika ada kenikmatan lain selian ibadah
Jika hal tidak penting masih memenuhi rongga mulut
Jika belum berani berkorban menolak kenikmatan sesaat
Ramadhan terbang seperti kapas tertiup badai

Bagaimana ramadhanku-mu?













Thursday, 22 June 2017

Ahirnya Nulis Juga




Langit  memutih ... Matahari sembunyi.
Di stasiun Manggarai , gerimis sebentar.
Teman teman di grup WA mengalami hal serupa.
Insya Allah, itu ciri-ciri tadi malam kita kedatangan tamu Lailatul Qadar.
Trus, apa kegiatan  tadi malam?

Seperti malam malam ramadhan terdahulu, di sepuluh malam terahir ada malam malam tertentu yang mata sulit diajak kompromi. Apalagi cuma dengan secangkir kopi. Nggak mempan!
Habis tarawih masih seger, begitu jam 11-an mulai deh!
Saya siasati dengan macam-macam kegiatan  sambil minta pertolongan.
Tau nggak, yang paling bikin mata sepat jadi segar? Buka laptop! Hadeeh..

Sampai masak makanan sahur, saya masih bolak balik antara quran dan urusan dapur. Masak berpahala juga kata ustadz, lakukan sambil berzikir dengan zikiran sepuluh malam terahir. Allahumma innaka afuwun...dst. Tapi kok tetap merasa kurang.

Insya Allah, semalam adalah malam penuh berkah, malam bonus besar-besaran.
Matahari jam 4 sore kelihatan separuh. Warna jingga redup, berselaput tipis. Sesuai  yang Rasul sebutkan, seperti melihat matahari di dalam air.

Saya menyapa dia dengan segala pujian tak beraturan, saking gembira di tengah kesibukan duniawi dia memperlihatkan wajahnya yang sarat pesan.
Sayap para malaikat di rombongan terakhir menutupi cahayanya.  Entah insan mana yang beruntung mendapat tebaran karunia terbesar itu? Rahasia! (Semoga kamu yaa..)

Sebagai mahluk yang tau diri, kadar keimanan mudah ditakar, belum mampu memandang gemerlap dunia seperti bangkai anak kambing cacat, saya cuma berharap. Cukup Allah menerima saja puasa dan ibadah ramadhan saya. Itu sudah jadi kebahagiaan besar.
Kebahagiann lain? Jika setelah ramadhan pergi, ahlak dan ibadah saya bisa lebih baik dan berkwalitas.

Hehe, andai bisa, andai bisaa... Kepengen nego sama Allah. Minta bonus doong, atas usaha saya menolak berbagai undangan dan menahan ngantuk!

Demikian sekilas curhat. Janji sebulan penuh nggak nulis,eh! Ahirnya nulis juga.

















Saturday, 27 May 2017

Ramadhan Praktis



Foto Su Rima.


Saya kapok dengan janji jelang ramadhan tahun lalu. Tekad untuk menggunakan waktu sebaik mungkin demi ibadah yang berkwalitas, menguap jadi hayalan.
Begitu ramadhan tiba saya sibuk berkutat di dapur pada jam-jam 4 sore hingga magrib. Padahal itu saat-saat mahal, semua doa bisa terijabah.

Ramadhan hadir kembali, akan kah janji cuma jadi catatan kaki? Tidak boleh!
Alhamdulillah, di event Philips tanggal 15 Mei 2017, saya dapat satu jalan yang bisa meraih beberapa keuntungan. Pakar gizi Rita Ramayulis  menerangkan bagaimana menyediakan asupan yang baik selama berpuasa.


Foto Su Rima.

Ternyata menu buka puasa dan sahur selama ini menghabiskan waktu pembuatannya cuma memenuhi selera mata alias "Lapar Mata". Hidangan kurang memenuhi syarat gizi, asal kenyang asal senang, besoknya badan lemas.
Pendapat lama orang-orang tua zaman dulu yang saya yakin  bisa menanggulangi rasa haus nyatanya tidak berpengaruh.

Memang ya, segala sesuatu harus diiringi dengan ilmu. Saya membaginya dalam 2 hal yang harus diketahui. Bagaimana keadaan tubuh saat berpuasa dan bagaimana menyiapkan makanan sehat tanpa kehilangan waktu beribadah.

Prinsipnya berpuasa itu memberikan kesempatan kita untuk hidup sehat. Organ tubuh beristirahat dari kerja kerasnya selama 11 bulan. Detoksifikasi  atau pembuangan zat racun dalam tubuh pun akan terjadi  secara alami. Akibatnya di awal awal puasa biasanya badan jadi lemas, pusing, sulit konsentrasi,ada juga keluhan kadar gula darah.

Siapa yang tidak mau tetap bugar saat puasa?
Rahasianya ada pada makanan apa yang dikonsumsi pada saat berbuka dan sahur. Makanan harus seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, sayur, buah, air serta serat sesuai dengan kalori masing-masing. Hindari makanan kalori tinggi, mengapa? Sebab akan menyebabkan dehidrasi dan seterusnya mengganggu metabolisme tubuh untuk detoksifikasi.

Tidak usah payah payah menyiapkan makanan. Pepaya, semangka, dan pisang bisa menggantikan cairan elektrolit dalam tubuh. Esok hari kita tidak terlalu kehausan. Selain itu gula darah akan stabil.
Makan buah-buahan ini jelang tidur atau sesudah sahur.


Gorengan paling asik dimakan saat berbuka, apalagi kalau minumnya teh manis hangat suam-suam kuku! Risoles, bakwan, pisang goreng, bisa ketemu di satu meja. Tapi ketahuilah, makanan nikmat itu harus melalui proses panjang sebelum sampai ke pencernaan. Enzim mulut, usus, empedu dan hati akan bekerja keras mengolahnya. Padahal jatah badan kita hanya cukup kira-kira  5 jempol minyak satu hari.

Yuk, kita ciptakan menu cepat saji yang memenuhi syarat sehat, dan sesuai sunnah (Thoyyiban).
Misalnya menyediakan buah-buahan yang manisnya mampu jadi pengganti gula.
Hindari gorengan yang berlebihan. Kurangi makanan bersantan, apalagi makanan yang berkali kali dipanaskan.


Event Philips yang penyambutannya selalu aduhai baik soal tempat, makanan, dan kesigapan panitianya ini, mengadakan demo memasak praktis juga.
Produk alat rumah tangga Philip  yang selalu berinovasi sering bikin ibu-ibu penasaran . Lihat saja  Philips Air Fryer, Fuzzy Logic, Dan Philips Blendder. Semuanya memudahkan ibu-ibu dalam menyiapkan makana sahur dan berbuka.


Foto Su Rima.
Foto Su Rima.
Foto Su Rima.
Add caption


Jangan sedih dilarang makan menu gorengan! Philps air fryer yang saya taksir ini memasak tanpa minyak. Saya dan teman mempraktekkannya langsung di meja per kelompok.
Kami masak Bola-Bola Ayam Sayur. Sama sekali tak beda rasa dengan yang digoreng menggunakan minyak. Aman, tidak perlu diremas dengan tisu sebelum dilahap.

Produk Philips disainnya apik dan langsing. Hasil tehnologi eklusif  hingga mudah digunakan. Seperti blender yang kami coba juga untuk membuat energizer Juice. Paduan beberapa buah seperti Melon, Mangga Manalagi, perasan Jeruk Pontianak, dan es batu. Si segar yang siap membentuk energi untuk esok hari.


Foto Su Rima.


Bapak Yongki Saputra sebagai Head Of Personal Health Philips Indonesia Sentosa Healthy menjelaskan bagaimana usaha Philips memudahkan pekerjaan ibu-ibu. Apalagi ibu-ibu yang sibuk dalam karirnya.


Ah, senangnya...  Bisa beribadah dengan tenang dan banyak waktu. Benar-benar ramadhan praktis!

















Tuesday, 23 May 2017

Si Risol Kampung


Foto Su Rima.


Bukan cuma saya lho, yang suka nambah risol saat beli Soto Bogor. Makanya Mamang penjual soto seperti Mang Bonin punya banyak persediaan sekantong besar.
Kulit risol tipis tu renyah di luar, empuk di dalam, pokoknya  bikin nagih! Apalagi kalau kesiram kuah pedas segar beraroma  jeruk limau!

Bulan ramadhan dia nampang seminggu sekali, eh! pernah juga deng sampe 2 kali di meja makan saya. Siramannya sambal kacang encer, di makan selagi hangat.
Orang Bogor sebut "Karoket". Teman-teman di Jakarta sebut  "Risol Kampung"
Memang sama penampakannya dengan Risol Belanda isi kentang dan daging.

Beberapa hari ini anak anak lagi kangen. Sementara warung sarapan di ujung kampung sebelah sudah beberapa bulan nggak pernah bikin lagi. "Capek,bu. Kan masaknya 3 kali" Kata penjual.
Memang sih, harus tumis isi, bikin dadar lalu goreng.

Yasud,  setelah intip resep  NCC, berangkatlah saya dengan PDnya ke warung nenteng bahan-bahannya.
Ibu warung suprise lihat keseriusan saya. Berulang dia bilang "Gampang kok!"

Ahamdulillah bapak bapak yang biasanya ngumpul ngobrol, jam segitu pada menghilang.
Kami  leluasa duduk  di bale. Sefeelingnya dia satukan semua bahan. Waah... Apa saya bisa takar pas kalau nanti bikin lagi?

"Adonannya lebih encer sedikit dari kue dadar,ya bu!" *Hik! Nggak pernah bikin.

Sampai rumah, saya timbang sisa bahan.
Ini rincian dan cara bikinnya.


Foto Su Rima.

Terigu                250  gram
Tepung beras     100  gram
Garam                2 sendok teh

Semuanya dicampur dengan air sedikit-sedikit sampai agak kental tapi tidak encer banget. Pokoknya kalau dituang dengan sendok sayur kelihatan bergelembung. Lalu buat dadar dengan sedikit minyak.

Isinya? Saya bikin sendiri di rumah.

1/2  Bungkus bihun direbus  lalu gunting.
2 Wortel parut kasar, direbus.
1 Batang daun bawang iris
1 Batang saledri ambil daunnya

Haluskan,
3 Bawang Merah
2 Bawang Putih
2 sdt merica
2 sdt ketumbar sangrai
2 sdt garam halus

Tumis semua bumbu halus . Setelah harum masukkan parutan wortel, daun bawang, saledri, plus bihun rebus yang sudah ditiriskan. Aduk sampai bumbu tercampur sempurna.
Finally, letakkan dengan rapih dalam lipatan dadar lalu goreng dengan minyak banyak.

Alhamdulillah percobaan pertama ini sukses. Kalau kata anak saya sih, enak! Mungkin karna bumbunya komplit. Apalagi kalau saya tambahkan royco yang mereka suka.
Atau... Mau senengin mamanya doang? Hehe, yang jelas dari 24 risol itu, saya cuma kebagian 2,sodara sodara! Teeerlaalu!

Karna bikin sendiri, jadi keluarga saya makan dengan cocolan sambal botol, dan mayonaise.
Kalau  men temen pecinta pedes, bisa tambahkan irisan rawit pada isi, atau pada saus kacangnya. Selamat mencoba si Risol Kampung.




Wednesday, 3 May 2017

Petir, Antara Takut Dan Harap




Suara guntur  sambung  menyambung sejak asar tadi. Angin menerbangkan horden kamar perlahan. Kelihatan pekat di luar  terbelah cahaya , cukup menyakitkan mata.

Putra terkecil saya sedang menyiapkan kamera. Untung-untungan kalau dapat gambar kilatan petir berserabut panjang, seperti akar raksasa.

Saya bilang...
"Mama takut! Pekat dan kilat selalu mengingatkan  mi'raj Rasulullah. Beliau lihat siksaan bagi manusia yang selama di dunia  kadang beriman, kadang kufur. Ia  tenggelam di kegelapan. Melihat tangannya  pun tak mampu.
Dalam perih sesal cuma bisa menanti cahaya kilat yang bisa menambah satu langkah. Entah  berapa ribu tahun lagi ia sampai ke tempat  aman dan terang? Atau tak akan pernah sampai?


"Kalau kamu ingat apa,Nak?"

"Saya ingat cerita Rasul tentang jenazah yang baru masuk kubur , Malaikat datang dengan suara gelegarnya melebihi halilintar" Jawabnya sambil siapkan tripot.

Saya membayangkan malaikat  memegang cemeti berbentuk akar raksasa seperti gambar di atas.
Nauzu billahi min zalik!


Kenapa doa saat hujan angin mudah terijabah?  Karna hati sedang dekat dengan penciptanya. Diri merasa keciil diantara dahsyatnya gelegar dan kecepatan cahaya. Sekejap kilatan mengandung 300 juta volt. Cukup untuk menyalakan lampu neon 100 watt selama setahun.

Entah di rumah, atau saat berteduh di pingir jalan, suara hujan petir melambungkan takut dan harap manusia.
2 rasa yang Allah suka  bila ada dalam dada kita. Bayna khauf wa roja'

Kata petir dalam surah Al-Baqarah, menggambarkan manusia yang  menutup telinga kuat-kuat dari  kebenaran. Sedang di surah Ar-Ra'd, petir  itu berzikir memuji kebesaran Allah. Manusia selalu berselisih tentang Allah. Padahal Allah maha keras siksaNya.

Ada petir dan kerasnya siksaan Allah dalam satu ayat..