Saturday, 14 January 2017

Kita Mimpi Yuk!






Nggak mungkin saya  jadi Olynda. Gadis  bermata bulat dengan rambut ikal coklat bergelombang  besar. Designer belia yang tinggal di kastil  nyonya  bangsawan, clientnya.

Nggak mungkin  duduk di perpustakaan  berinterior Eropa klasik. Tenggelam di sofa baca warna mocca  serasi dengan warna pita   merah jambu  di pinggang saya. Renda putih romantis di leher baju membingkai  wajah lembut. Sesekali kerlip  bross warna ungu tua yang  tertimpa cahaya lampu krital membias di pipi dan dagu.

Apa lagi yang ini...
Putra tunggal clientnya yang lama sekolah di luar  negeri  tiba tiba memasuki ruang. Di sana awal cinta tumbuh. Saya jadi Olynda yang mampu membuat wajah dingin cerdas itu mencair  hangat penuh rindu. Meski harus berjibaku dengan kobaran cemburu melihat sang pangeran selalu dikelilingi gadis gadis berkelas.

Hihi, Blass!...Nggak mungkin samsek!
Itu mah ngayal Babu, kata anak sekarang.


Dahulu motivator Mario Teguh merancang mimpi. Punya rumah besar lengkap dengan kolam renang di dalam ruang. Sebegitu rinci angannya hingga mencatat berapa ketinggian permukaan  kolam. Dan semua terwujud persis.

Kata orang sukses, bermimpilah mumpung  gratis! Mimpi adalah masa depanmu.
Bermimpilah! Mimpi akan menggerakan tenaga untuk meraihnya.

Bahkan saya alami, impian waktu jadi   korban novel Barbara Cartland itu datang menghampiri tanpa usaha.
Di luar bayangan, saya uapkan mimpi bersama  orang orang tercinta.
Memang cuma patahannya, namun jadi anugerah besar karna  pemilik diri ini menunjukkan ke maha-an sifatNya. Ia pengabul segala keinginan  meski kecil sembunyi  tertutup batu hitam di malam pekat.






Bermula dari kepergian saya dan keluarga ke Bandung untuk hadiri acara Wisuda. Saya agak trauma cari penginapan di pusat kota saat acara penting kampus.

Pengalaman waktu anak ke dua mau daftar ulang di ITB, kami kehabisan penginapan. Keliling sampai magrib belum ketemu juga. Hingga usai sholat dan ngaso di masjid baru kami dapat jawaban yang membahagiakan dari resepsionis Home Stay. Ada sisa 1 kamar kosong, bisa booking buat 4 hari mendatang, alhamdulillah.
Kami dapat rumah tua  di pojokan daerah Suka Jadi, nggak apa-apa!
Printilan toilet jadul  dan sprei putih hampir menguning, ihlas! Yang penting anak saya nggak telat ke kampus, dan saya bisa menemani sarapan sambil kasih support.

Sekarang hari wisuda kakaknya. NHI perguruan tinggi negeri juga, jadi kasusnya sama dengan ITB, penginapan sekitar kampus sudah full booking oleh keluarga dari daerah daerah terdekat hingga  ujung Indonesia.

Saya pasrah jika dapat penginapan seperti dulu. Nggak berani tanya-tanya namanya apa, tempatnya di mana, ke anak yang sudah booking. Hawatir keluhan saya merusak suasana.
Dalam perjalan saya  cuma banyak syukur  menikmati kebersamaan. Sebab untuk pertama kalinya kami sekeluarga bepergian sejak pak suami pulang dari rantau.


















Foto Su Rima.


Langit mendung dan pepohonan basah menyambut kami di depan bangunan putih antik. Jendela kayu berkisi  berderet tinggi tinggi . Ada ayunan  kayu, lebar beratap kain, menghadap taman. Restaurantnya out door di sisi kanan gedung. Bergantungan kap lampu berseling sangkar burung berukir, semua serba putih. Eropa banget!

Dan begitu  masuk lobby, mimpi saya membentang!
Ruangan berinterior eropa klasik dengan lampu lampu redup romantis. Ruang perpustakaan berlampu baca tua, persis gambaran benak saya waktu jadi Olynda.



Haduh!! Rasanya kepengen jingkrak-jingkrak kayak ABG penggila drama Korea ketemu idolanya. Saya ingat  ajaran sahabat saya untuk  memaksimalkan Pre Frontal Cortex, bagian otak penahan  keinginan dan pengendalian diri, demi melawan otak reptil yang terlalu cepat mendesak desak bereaksi.

Saya memilih tinggal di kamar waktu pak suami dan anak anak  ajak makan mie kocok. Luapan bahagia saya tuntaskan dengan menyusuri semua sudut ruang penginapan yang kebetulan sedang sepi.

Susuri lorong sejuk  yang diterangi lampu dinding. Ada suprise di ujung sana. Pucuk pucuk Pinus di balik kaca berbulir hujan.
Di  sudut lantai  bawah bisa lihat teropong bintang , gramaphon, dan alat musik tua. Pokoknya  ambil gambar sampe kenyang,

Setelah puas, baru nikmati tempat tidur lembut harum, bersisian dengan tirai anggun menjuntai dengan motiv khas.
Entah bagaiman dalam pandangNya, melihat saya tersipu malu dan bersyukur  menerima hadiah.





Allah terlalu kaya dan santun. Malu bila tak mengabulkan harapan. Mungkin di bumi kita dapat seperempat patahan atau kurang dari itu. sisanya dibayar kontan pada hari "Perjumpaan" Insya Allah.

Eh, ada lagi mimpi saya yang lain. Ingin punya panti asuhan, balai pertemuan dhuafa tempat berbagi ilmu, dan satu mimpi spectakuler masa kecil masih tersimpan rapih dalam kotaknya.


Bermimpilah bahkan untuk hal yang mustahil sekali pun. Karna mimpi adalah doa. Bermimpilah setinggi langit. Andai jatuh, kita jatuh di antara bintang.

Ada stiker guyon nulis begini...
Bikin alis nggak usah  tinggi-tinggi, karna  bukan mimpi atau cita-cita. Hihi.

Kita mimpi,yuk!
























Saturday, 7 January 2017

Pikiran Sore...


Seorang teman mengadu. Ada ustad tanya begini waktu kajian.

Mana yang lebih baik?
Kafir tapi baik hati, atau
Muslim tapi jahat?

Mana yang lebih baik?
Wanita berhijab tapi melawan suami
Atau wanita tak berhijab tapi taat pada suami?

Ah, ini sama dengan...
Muslim korupsi
Atau kafir tapi jujur?

Lalu sang ustad menjawab sendiri.
Kafir  dan perempuan  tak berhijab lebih baik.

Sebenarnya itu bukan pertanyaan, tapi perbandingan yang tidak pas.
Membanding jangan Apple to Apple dong!
Mengaburkan kebenaran.


"Kebenaran itu relatif,Mbak". Kata teman saya lagi.
No! Kebenaran hanya satu, Ia  datang dari  Allah. Absolut!

***


Ustad seperti dukun
Dukun seperti Ustad

Artis seperti ustad
Ustad seperti artis

***


Mengaku muslim.
Padahal cuma "Merasa" muslim.
Iman sudah tercabut perlahan.
Masuk dalam kelompok abu abu
Kelompok yang sudah ada sejak Rasulullah hidup
Mereka mendirikan sholat, berzakat, berhaji, bahkan ikut berperang
Namun hati berpenyakit. Benci melihat muslim bersatu kuat

Sebagian lain
Berpola pikir plagiat. Pemahaman  Kuffar diangap keren.


Pilah pilih ayat sesuai hawa nafsu
Mengatakan Raainaa, padahal Allah bilang Ra'iinaa.
Senang pada ayat mutasyabihah.

Katanya, cuma Allah yang bisa menafsirkan Quran dengan benar.
Padahal kalimat itu bertujuan  melegalkan pemahaman liar atas firman.

Kelompok ini bermesraan dan lembut pada musuh Allah
Keras dan kasar pada saudara seiman

***

Seorang muallaf mengeluh, persyaratan masuk Islam perlu uang administrasi. Padahal ia tengah terluka. Terusir dari keluarga, kehilangan pekerjaan.
Banyak muslim kurang faham.
Salah satu Ashabul Ahnaf adalah  Muallaf.

***

Berlompat lompat pikiran sore ini
Semoga kita tak  "Merasa" muslim

Bukankah Firaun merasa dirinya Tuhan?
Bukankah Nabi Yunus merasa cukup berdakwah?
Bukankah Nabi Musa merasa cukup arif?

Cepat mengubah diri sebelum Allah mengganti dengan kaum lain.

Dan barang siapa yang berpaling dari ketaatan pada Alah, maka niscaya Allah akan menggantikanmu dengan kaum lain. Mereka mencintai  Allah dan Allah mencintai mereka. (QS Muhammad 38)
Tak ada lagi kenikmatan lain, selain mendapatkan cinta Allah.

Apa saya juga termasuk orang yang "Merasa"?
Wallahu 'aliimum bizatissuduur.

Pikiran Sore...













Tuesday, 3 January 2017

Saya Dan 2016


Di ujung 2016, nggak ada resolusi-resolusian. Malam gembira (Bagi orang)  lewat begitu saja seperti tahun tahun kemarin.
Yang enak sebetulnya menulis di blog yang hampir berlumut ini. Tapi masih banyak urusan. Urusan hati!

Ada sedih...
Beruntun 2 orang sahabat wafat. Menyusul  (Ambang 2017) putra tetangga yang sejak bayi suka main di rumah, termasuk korban kecelakaan kapal Express Zahroh yang terbakar.
Hari ini jenazahnya masih ditunggu karna proses panjang di Rumah Sakit dan Kantor Polisi.

Ya Allah, terbayang terus senyum ramahnya sembari panggil-panggil dari jauh di mana pun kami ketemu.
Menurut sahabatnya yang selamat, ia sempat menolong orang lain sebelum  terjun.

"Kamu baik bener! Serasa kamu hadir waktu papamu kasih lihat tante 2 foto besarmu"

Ada problem...
Rumah kami mau dibeli. Jadi harus cari rumah lagi.
Susah ya cari rumah tuh! Seperti cari pasangan hidup. Harus bener bener klik di hati.

Rumah baru banget pasti Ok di mata. tapi begitu diketok, dinding berasa kopongnya. Hehe, nggak bisa becanda dorong-dorongan dong ya! Udah gitu sempit ( type 120). Kurang seru kalau lagi ngambek sama pak suami, nanti cepet baikan! Hihi

Semoga dapat yang terbaik. Harga murah, model nggak norak, adem, strategis, enak buat beribadah dan bermuamalah. Amiin.

Ada Takut...
Hmmm... Nggak usah diceritain deh. Manusia kan diuji dengan kepalaparan dan ketakutan. Jadi keep aja soal ujiannya. jawab diem diem.

Alhamdulillah masih punya bahagia.
Pagi petang lihat pak suami dan anak anak sudah kelar mandi dan berangkat ke masjid sama sama. Nggak ada yang melebihi dari itu.

Selamat tinggal 2016!
Entah cerita apalagi di depan? Bagaimana pun cuaca hati, semoga Allah beri kepandaian  menghitung matematikanya sabar syukur dan selalu ingat ucapan yang Dia ajarkan "Innallaha ma'anaa"














Friday, 23 December 2016

Toleran Itu Mendewasakan

Image result for toleransi


Saya lagi inget mantan tetangga  saya, selang 5 rumah, belasan tahun lalu.
Di satu malam  takbiran  tiba tiba Asisten Rumah Tangganya, Mbak Epon datang. Saya sedang  selonjoran ngaso di depan tv, habis masak lauk lebaran. Rumah masih penuh harum  Opor.

"Bu, maaf saya bertamu malam-malam. Ada surat dari Madam" Katanya sambil sodorkan amplop kecil warna putih

"O, nggak apa-apa. Saya juga belum siap-siap tidur kok!"
Belagak tenang saja, tapi dalam hati terheran-heran. Kok tumben ibu yang pintunya selalu tertutup, tampilan ningrat dan jarang menyapa tetangga itu kirim surat?

Di amplop ada uang dalam lipatan kertas, bertulis...

Selamat malam Ibu.
Mohon maaf jika saya merepotkan.
Apa boleh saya beli ketupat sayur buatan ibu sedikit saja? Anak saya Nevy ingin sekali makan ketupat lebaran.
Terimakasih sebelumnya.



Wah, kenapa baru nyadar ya? malam spesial gini dapur dapur muslim cuma menyebarkan aroma saja. Kasihan, ada yang cuma bisa mencium dan  membayangkan

Saya kembalikan uang dalam amplop dan nggak lama kemudian Mbak Epon sudah keluar pagar bawa rantang menu lebaran cukup buat keluarga kecil itu.

Lingkungan sini nggak punya acara saling kunjung usai sholat ied. Pintu banyak tertutup  karna nonmus,  mudik, atau  langsung ke orang tua di daerah terdekat.
Jauh beda dengan tempat Bapak di Jakarta. Warga yang tak merayakan lebaran bisa sama sama menikmati ketupat karna saling kunjung.

Saya nggak menyangka sejak peristiwa  itu saya jadi akrab dengan Madamnya Mbak Epon. Terbiasa ketuk rumah tetangga antar menu lebaran.
Senang kalau ada ketupat juga di meja makan orang yang tak merayakan lebaran, sesenang lihat wajah mereka saat menerima.

Dan sejak itu pula, saling berikirim makanan berlanjut. Rumah saya selalu dapat kiriman kue kue cantik di hari Natal. Hari hari raya datang tanpa tuntutan harus memberi ucapan, menyejukkan sekali! Mungkin karna sudah terwakili dengan ihlas dan kesantunan.

Toleransi itu sederhana ...
Toleransi bukan MENGIKUTI tapi MENGHORMATI. Seperti Rasulullah yang berdiri dari duduknya saat usungan jenazah orang Yahudi lewat di depan beliau.
Sahabatnya bilang, "Ia orang Yahudi!"
Rasul menjawab: "Bukankah ia manusia?"

Atau seperti seorang gadis dengan anjingnya di taman. Begitu berpapasan dengan ibu berhijab, ia berusaha halau anjingnya agar tak mencium kaki ibu tadi.

Toleransi bukan cuma bikin luas hati. Tapi bisa jadi penahan lidah. Memaksa kita untuk menambah lagi sifat baik.

Satu  cerita di  film kartun Upin dan Ipin. Mereka sedang nonton acara budaya Cina. Bangku deret depan tak boleh diduduki.   Tentu mengundang tanya Upin Ipin.
Sahabatnya Mei Mei  menerangkan, kursi itu akan diisi oleh para hantu. Upin  Ipin mengangguk angguk saja dengan gaya khasnya.
Nggak ada koment, kenapa begitu? ... Aneh!...Lebay! atau kata kata lain yang nggak perlu.

"Dan janganlah kamu memaki sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap ummat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka. Lalu Dia memberitahukan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan"
(QS Al-An'am 108)

Nggak habis habis cara dan media Allah demi mendidik kita. Kejadian seremeh apa pun tetap terkandung nasehat. Toleran itu mendewasakan.



Sunday, 18 December 2016

Cara Philips Menyambut Hari Ibu

Foto Wilujeng Saja.

Tanggal 8 Desember lalu saya dapat rejeki nomplok. Bisa menghadiri undangan Philips di  Thamrin Nine Ball Room, gedung UOB Jakarta Pusat

Ini pengalaman pertama  ikut event produk yang logonya sudah saya  kenal lama sejak mulai bisa baca . Tertulis di gramaphone ayah saya, piringan hitam, radio transistor, Bohlam, pisau cukur listrik, compact audio cassete dan lain lain.

 Perusahaan Philips dibangun  sejak tahun 1891, oleh dua orang bersaudara, Gerard dan Anton Philips di Belanda, dengan produk pertamanya Bohlam lampu. Kemudian tahun 1920 mulailah bermunculan alat alektronik lainnya.
Terbilang sukses karna penjualannya di tahun 2004 tercatat 30,3 Juta Euro dan memperkerjakan 161.586.000 tenaga kerja di 60 negara.


Foto Wilujeng Saja.


Tak pernah saya lupa, perlengkapan rumah tangga pertama yang saya miliki  saat baru berumah tangga adalah strika merk philips. Lalu menyusul blender, mixer, dengan merk sama.

Rupanya Philips rutin mengadakan event tahunan. Dan karna bulan Desember ini terselip hari nasional, hari ibu yang sangat spesial, maka Philips Indonesia bagian dari Royal Philips (NYSE: PHG, AEX:PHIA) mengadakan acara bertema "Philips Mother's Day Coocking Battle".

Di pintu gedung saya  harus melewati detector dan susuri banyak lorong. Setelah belak-belok sampailah di Ballroom , berkarpet tebal, sejuk dengan pencahayaan teduh romantis.
Pandangan pertama kali terbentur pada susunan cangkir putih. Nah, ini yang selalu terbayang saat  berdesakan dengan orang kantor  di kereta comuter bila ikut event pagi hari. Letih perjalanan dari  Bogor ke Jakarta jadi luntur kalau lihat pojokan minuman hangat dan cemilan. Philps memahami betul yaa. *Happyy!



Foto Wilujeng Saja.



Philips juga menyambut tamu dengan 4 meja hidangan. Meja juice, meja makanan siang menu Soto, Nasi Komplit, meja cemilan, meja dessert, dan ituuuuh, Asinan Betawi!
Tidak perlu sungkan, sebab Philips membuka acara dengan makan siang terlebih dahulu.

Tapi saya utamakan minum teh lalu ke meja registrasi. Di sana panitia sudah siap dengan lembar pers rilis. Ini yang paling dibutuhkan.

Menarik! Nikmati makan siang bukan dengan cara standing party, melainkan duduk di kursi manis berderet rapih. Makanan sangat cukup, dan tidak kelihatan  piring kotor disekitar. Petugas berseragam hitam itu cepat sekali kerjanya.

Dari kejauhan pandangan saya terbentur pada meja Juice. Bentuk Juicernya unik, mirip  Kendi ( Wadah air minum jaman dulu). Di bannernya tertulis "Tahan Lama Melayani Keluarga"
Kalimat yang  menyentuh  perasaan sebagai ibu. Pas juga dengan peran Philips selama ini.

Foto Wilujeng Saja.

















Mumpung sepi, sebelum masuk ruang acara saya lihat dulu juicer keluaran philips HR 1855 . Simple dan ringan! Olahan jusnya halus merata. Ada beberapa lagi juicer keluaran philips type lain.

Ruang utama sudah ramai. Riuh suara pengunjung  ulah canda Augie Fantinus.
Sementara Hatna Danarda dan Nicky Tirta dengan teduh tenang memakai celemek sambil senyum ramah mengarah ke kamera.
Acara pemotretan perlu tambahan waktu karna banyak ibu-ibu berselfie ria dengan 3 Papa muda selebriti itu.


Philips berhasil menciptakan pertemuan seru demi memberi apresiasi kepada pengguna produk Philips, seperti yang dijelaskan   Ibu Maria V. Simanjuntak dalam sambutannya, selaku Senior Marketing Manager, Domestic Appliances,Philips Personal Health Indonesia.

Foto Wilujeng Saja.

Foto Wilujeng Saja.

Foto Wilujeng Saja.


Acara Lomba Masak

Piring piring cantik putih berbagai ukuran dan bentuk sudah tersedia. Piring putih membuat makanan apa saja di atasnya jadi menarik mengundang selera.

Begitu waktu lomba dimulai,  peserta berbagi tugas. Pasangannya yang wakil dari  media dan blogger langsung menyerbu lemari tempat bahan dasar masakan.
Penonton harap harap cemas, apa artis yang jarang pulang karna sibuk entertaint orang ini bisa masak?
Tapi tanya itu terjawab dengan kesan santai mereka saat mengolah masakan. Tidak ada grogi sedikit pun!

Foto Wilujeng Saja.

Hatna Danarda dan Nicky Tirta memang antusias ikuti tantangan. Sebab passionnya di masak. Berbeda dengan Augie Fantinus yang baru kali ini memasak. Namun keduanya punya keinginan  sama, ingin bisa membahagiakan istri.


 Nicky Tirta memasak Nasi Liwet khas Sunda dengan Pepes Tahu.
Augie Fantinus membuat Korean Beef Rice Bowl, dan  Hatna Danarda memasak Butter Rice With Honey Grilled Prawn.
Itu hidangan utamanya. Sedang tantangan lain, mereka membuat minuman smoothies ala  mereka sendiri.

Produk Baru Philips

Kenapa mereka memasak begitu santai tanpa beban?
Sebab peralatan dapur yang digunakan adalah peralatan modern dari philips. Diantaranya, Rice Coocer Gold HD 3128 yang dilengkapi dengan tehnologi 3D heating. Hasil masakan matang merata sempurna dan kehangatan nasi terjaga.
5 lapisan ProCeramicnya 3x lebih kuat, dan lebih  tahan gores.

     Sumber Gambar


Ada lagi produk lain, Philips Daily Collection Steamer lengkap dengan manual timer. Sangat memudahkan  pengguna untuk mengatur lamanya pengukusan.
Bagaimana dengan menu yang dipanggang? Phillps punya Table Grill dengan  lempengan bertemperatur tinggi agar terjaga kadar air bahan makanan yang dipanggang.

Saya masih menggunakan blender Pilips model lama karna masih kuat. Blender terkini lebih meringankan pekerjaan. Kapasitas 1,25 liter bisa tercampur rata dan halus sempurna hanya dengan satu kali tekan. Benda keren ini yang bikin peserta lomba sukses membuat  smoothies.

Enak yaa, tehnologi membuat kegiatan masak jadi menyenangkan, lebih mudah cepat dan aman untuk semua keluarga. Seperti yang diungkapkan Bapak Yongky Sentosa, Head of philips Personal Health Indonesaia.

Umpama ada anak remaja yang ingin praktek masak, atau para bapak yang belum pernah masak ingin membuat kejutan untuk istri tercinta,  maka  peralatan ini akan  menjauhkan mereka dari rasa takut gagal.

Acara Penutup

Waktu acara cicip-cicip, peserta lomba  menghampiri audience.  Augie maksa deh, minta dipuji. Tapi memang benar enak kata ibu yang mencicip.
Sedikit  koreksi dari  seorang ibu, agar bahan kacang baiknya disangrai dari pada digoreng.

Ahirnya sampai pada puncak acara yang ditunggu. Pengumuman pemenang lomba masak dan peraih door price. Terus terang saya tak pernah  hoki kalau acara door price. Jadi saya cuma menunggu pengumuman juara lomba masak .

Dan,  keluar sebagai pemenang adalah Nicky Tirta!
Waahh... Wajahnya bahagia  betul! Tambah bahagia lagi dia bersama pesaingnya,  karna dapat kejutan, istri  istri mereka dimunculkan di ahir acara.
Sayang... Saya tidak bisa mengabadikan hasil masakan dan ekspresi mereka. Ponsel saya kehabisan bateray. :(

Apa saya sedih tidak dapat Door Price? Tentu tidak, karna Philips memberi kebahagiaan lain. Setoples mungil coklat yang dikemas cantik, buku resep Sajian Spesial Di Hari Istimewa, dan voucher belanja! Terimakasih Philips :)


Seperti itulah ibu, tak perlu penghargaan besar untuk membayar letihnya. Kejutan kecil dan ketulusan sudah amat berarti.
Tak heran bila survey oleh Independent Grocers Of Australia (IGA) mengambil sample dari 1000 ibu, hanya 35%  dari responden yang merasa dapat mengandalkan hari ibu sebagai hari rehat untuk santai dari kesibukan rutin.

Semoga para bapak atau suami dapat mengapresiasi para ibu dengan cara sederhana yang menyenangkan. Membuat kejutan dengan masakan seperti cara Philips menyambut hari ibu.

Oh ya, ada pengumuman. Philips mengadakan kompetisi foto bersama keluarga dengan rice coocker Philips. Hadiahnya menarik! Berupa 180 koin emas. Ditunggu sampai tanggal 31 Desember 2016.  Keterangan lengkap bisa dilihat      di sini atau  di Facebook Philips Home Living ID.





Tulisan ini untuk mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Philips

Thursday, 15 December 2016

Festival Makanan Padang



Foto Kuliner Saja.

Biar hujan pengunjung tetap datang. Beberapa stand penuh antrian sampai menutup jalan, soalnya  Festival  makanan Padang ini cuma berlangsung 2 hari sih..

Jalanan basah, kardus-kardus  yang semula buat atasi becek sudah kayak bubur. Ekhh!! Nggak enak banget, apalagi nginjeknya lama karna pengunjung beradu dari dua arah.
Hihi, sampe segitunya ya mbela belain perut. 

Menu Padang banyak penikmatnya. Cocok utk semua lidah dan makin banyak varian. Kayak ini nih.... Rendang sayur Paku. Biasanya kan cuma digulai untuk siraman lontong. Lainnya rendang ayam, telur, paru, sampe singkong direndang juga!


Foto Kuliner Saja.
Foto Kuliner Saja.


Beberapa tenda sudah sepi, tapi tetap saya datangi jika  masih punya sample menu unik. Buat motret motret doang.
Makanan kampung yang sudah sering saya  makan seperti Lamang Tapai, Bubur Kampium, Kapiang Kacang, Karipiak Sanjay, Ikan Bilih, lewaat...

Yang nantangin banget,yang ini nii..
Lado Jariang  isi 6 biji di toples mungil, harga 25 ribu.  Rendang udang renyaaaah banget, trus ampas rendangnya bikin nagih! Harganya 75 ribu. Paling buat 3 orang makan nasi. Saya cicip samplenya, masya Allah! Krenyes-krenyes full bumbu, tapi nggak basah minyak.

Kenapa mahal bingit, ya? Mungkin karna harga cabe dan kelapa naik lagi. *Inget omongan teman saya... Kalah deh, sama harga diri!


Foto Kuliner Saja.Foto Kuliner Saja.
Foto Kuliner Saja.Foto Kuliner Saja.

"Uni, buliah singga siko,Ni..!"
Ibu muda sholehah minta saya mampir. Tapi menu padangnya yang biasa di Resto.
Stand Dendeng Bakuah, Martabak Padang, antriannya  panjang. Apalagi Bika Padang, sudah full pesanan.
Ujung ujungnya saya ke stand Ayam Bumbu Hitam dan Pangek Daun Singkong.

"Ayam hitam nda do lai. Lah habih sadonyo.  Pangek jo sisa ayam gulai saketek, Ni" Kata penjual.

"Ondee Ni! Manga nda buek nan banyak Ni? (Pasrah deh, ayam bumbu hitam sdh habis)
"Nda ba'a. duo porsi pangek jo ayam gulai"

Saya beli 2 porsi pangek daun singkong dan gulai ayam saja buat bapak. Kaget waktu bayar, ternyata muraaah banget! Dia bilang karna saya pembeli terakhir. Dan... Saya dapat Bumbu hitam haratiss! Alhamdulillah. Se-imil juga nggak apa apa deh, lumayan buat cocolan!




Foto Kuliner Saja.Foto Kuliner Saja.
Foto Kuliner Saja.



Space antara stan sempit  dan kurang bangku. Akibatnya banyak pengunjung makan  di dekat  tumpukan sampah kemasan, dan  di taman yang seharusnya terjaga.
Mereka nggak peduli lagi, yang penting kesampaian keinginannya.
Sambil nikmati musik Kalempong mengiringi tarian lincah anak anak remaja.

Kalau lihat suasana begini jadi terkagum-kagum sama cara Allah memanjakan hamba. NikmatNya meliputi segala sesuatu.  sampe ke jeroan/tenggorokan. Nggak mungkin  enak kalau nggak ada sistem koordinasi dan sistem panca indera. Nggak sampe ke piring kalau nggak ada hujan dan panas. Nggak tertelan tanpa enzim jasa kerja saraf terhalus.

Manusia sampai  lupa. Dikira kandungan makanan yang bikin maknyuss. Padahal dikasih sakit flu sedikit saja,   makanan sudah nggak berarti. Sel hidung tertutup lendir, gagal menyampaikan partikel aroma ke otak.

To remind me..
Semoga  mampu bersyukur, makan sekedar menegakkan badan untuk ibadah.

Jakarta masih gerimis, kendaraan umum banyak kosong, alhamdulillah bisa ke bapak hari ini dengan bawa sesuatu. Dari jauh masih kedengaran lagu tarian itu..

Ikolah Indang oi Sungai Garinggiang
Kami tarikan basamo samo
Sambuiklah salam oi sambah mairiang
Pado dun sanak alek nan tibo

Dindin badindin oi dindin badindin..

Entah kapan ada Festival makanan Padang lagi?

Foto Kuliner Saja.

Foto Kuliner Saja.












Tuesday, 13 December 2016

Permainan Analisis Jadi Penghibur


Waduh... Masih panas aja ya, cuaca di medsos. Pemutusan pertemanan juga rame di FB, dan twiit gara gara beda pandang.
Kontent, gambar, video, koment, banyak yang nggak sesuai dengan akal sehat.
Perkataan golongan abu-abu bikin pedes kuping.

Utung saya nggak suka lama-lama buka FB. Bikin status pun bisa dihitung dengan jari tangan perbulannya. Paling tebar jempol, baca status positif, nikmatin pengalaman inspiratif, baca puisi, dan share gambar-gambar yang menyejukkan. Ada juga sedikit isue politik.

Medsos  seperti prasmanan. Pilih makanan bergizi. Kenali tubuh, butuhnya asupan apa?

Kalau ada menu tampilannya nggak Ok dan bikin melorot selera makan, biarin aja! Nggak usah digeneralisir, apalagi tebalikin semua pirirng.
Bagusnya sih, tetap bisa jadi rahmatan lil 'alamiin di segala keadaan. Kalau belum bisa, jaga kata mampu menyelamatkan diri dan orang lain

Detox hati dan fikiran perlu!
Cara saya cukup  dengan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, dengar suara burung di teras belakang, nikmati gemericik air pancuran *punya tetangga.
Sambil ikutin permainan analisis di Facebook. Mayan... Buat seneng-senengin hati dan memupuk rasa GR, haha :)

Paling asik pas analisis... Siapakah kamu di dalam film?
Eh... Yang muncul gambarnya Sharon Stone waktu jadi Catherine Tramell di film Basic Instinc. Wooow! Dia idola saya banget, selain Madeline Stowie, Ladi Di dan Putri Grace dari Monaco.
Btw, tentu saja dapet nilai  cantik, romantis dan sexi, kan PP saya gambar bunga :)

Pernah ikut Permainan Analisis?















Wednesday, 7 December 2016

Saling Menguatkan


Kemarin takziah ke Jakarta. Tetangga saya meninggal karna kanker paru lalu menjalar sampai ke otak.
Saat sakit, sabarnya luar biasa. Tanpa keluhan apalagi erangan. Sepanjang perjalanan berputar terus kenangan baiknya.

Rencana dimakamkan jam 10. Alhamdulillah, bisa datang sejam lebih awal dan bisa menatap wajah ibu cantik yang sedikit bicara itu terakhir kali.

Tapi... Ternyata jam 9 sampai sana, kifayah sudah selesai disholatkan. Oo rupanya jam 10 itu sebisa mungkin sudah tutup pusara. Orang orang gerak cepat, yang di rumah, musholla dan parkiran. Saya masih diam diam bingung.
Mau antar ke pemakan atau nggak?

Hukum wanita ziarah ke kubur dulunya, dilarang,  dibolehkan, lalu dilarang lagi.
Era Mekkah terlarang  karna saat itu kesyirikan masih melekat kuat. Paska Hijrah dianggap aqidah sudah tertanam hingga larangan dicabut. Selanjutnyaa??

Masih mikir...

Dari jauh saya lihat ibu almarhumah  tertahan di pintu, matanya mencari-cari sandal. Refleks saja saya hampiri, sodorkan satu persatu sendal yang banyak parkir. Nah, ketemu !

Waktu pakai sandal, tangan gemetarnya bertahan di lengan saya. Pelan-pelan kami jalan  menuju mobil sambil menahan tubuh lemasnya.
Legaaa waktu beliau sudah duduk dengan nyaman, lalu saya siap pulang.
Ehh... Tangannya nggak mau lepas! Terbawalah saya dalam rombongan pengantar jenazah. *Gimana Allah aja deh..

Usai acara doa dan tabur bunga, ibu tadi sudah dipapah keluarganya. Tinggal saya sendiri menyusuri jalan  makam. Ya Allah ... Di depan ada pemandangan yang mengaduk perasaan. Suami dan dua anak almarhumah berjalan beriringan, saling menguatkan.

Hik ! Bahu, mana bahu....?







Tuesday, 29 November 2016

We Are The Master Of Our Mind



Sebuah percakapan di Resto Baba Gendut.


Saya :
"Jadi gimana caranya supaya kita nggak jadi manusia  reaktif? Gampang  marah, mudah tersinggung, apa saja dikoment, trus cepat menshare berita.

Mbak Iwed:
"Bayangkan tubuh kita ada 2, satunya keluar jadi penonton sejenak. Netralkan hati, lihat jernih masalah, cek ricek data yang masuk di otak"

"Segala kejadian sebenarnya bersifat netral. Cara fikir kita akan membuatnya jadi cerah, suram, bahkan menakutkan. Kenapa kita mudah panik, marah, dan cepat melabelkan orang lain? Sebab kita tidak tahu bagaimana otak kita bekerja. Bagaimana persepsi terbentuk lalu menimbulkan emosi. Dan emosi mendorong manusia merespon peristiwa"


Mbak Iwed yang  ihlas berbagi ini sering menjadi trainer seminar Parenting di daerah dan luar negeri . Tulisannya bersama psikolog Okyna Fitriani laku di pasaran hingga cetak ulang (The Secret Of Lightening Parenting). Jadi ini  kesempatan emas menerima transferan ilmunya.

Mbak Iwed:

"Tau nggak? Karakter manusia tu berpola seperti binatang. Kalau orang suka pendam-pendam perasaan lalu dimuntahkan saat emosi memuncak, itu pola sapi yang memamah biak. Kalau orang langsung bereaksi setiap ada aksi, itu pola ular!"

Plaakk!! Serasa ditampar!

Acara kangen-kangenan ini  bikin benderang pandang. Selama ini banyak kesalahan internal external. Kok bisa yaa...sampe nggak nyadar gitu?

Mbak Iwed memberi tehnik-tehnik menyelesaikan emosi supaya tetap tenang dan berdaya dalam situasi apa pun. Lembutnya tutur kata, intonasi bicara, volume suara, akan membawa ketenangan buat semua.

Di dalam rumah saja kita bisa terpengaruh dengan emosi negativ, apalagi jika kaki sudah melangkah keluar. Banyak hal buruk mempengaruhi emosi.
Hidup harus berkwalitas dengan menjauhi kebodohan
Pantess... 37 kali Allah mengulang kata bodoh dalam Quran. Karna cuma orang bodoh yang lihai menzalimi diri dan orang lain.

Trus gimana supaya kita nggak cepat bereaksi  dengan berita medsos?
Mbak Iwed yang gemar berfoto mesra dengan suami ini, suatu hari baca artikel yang banyak mengundang komentar, judulnya "Pasangan Yang Bahagia Justru Tidak Suka Pamer Kemesraan di Medsos"

Bagaimana reaksinya? Apa tersinggung? Nggak!
Ada cara menghadapinya. Ia ciptakan percakapan di kepala. Istilahnya Meta Model, yang gunanya untuk mengklarifikasi sekaligus menyelesaikan emosi.

"Pasangan Yang Bahagia Justru Tidak Suka Pamer Kemesraan Di Medsos" Itu kata siapa? Ada datanya nggak? Mana samplenya? Melalui penelitian kah? Mana hasil surveynya ?
Nggak berdasar, kan? Jadi itu murni pendapat subjektif penulis.

Ini sebetulnya sudah terpapar di QS Hujurat:6 tentang "Tabayyun" Check and recheck. Surah yang sarat dengan pesan etika , moralitas, prinsip muammalah  yang menunjukan kwalitas akal manusia.
Kita banyak makan nasehat tentang SABAR . Tapi dalam praktek, kita butuh ilmu terapan

Kesimpulannya:
Nggak usah dipikirin! So, terpancing emosi, mengkopas, mengomentari, menshare artikel tak berdasar, bukan tindakan cerdas.

Notted:

1. Listen and acknowledge
2. Make piece your mind
3. Realize your thoughts are just thoughts
4. Observe your own mind
5. Retrain your mind to rewire your brain
6. Practice self-Compassion



We are the master of our mind.
 Kita nggak bisa ngatur mulut orang lain. Maka yang diatur pikiran sendiri




Sunday, 27 November 2016

Today...




Pagi ini harusnya ke Kebun Raya, ikuti kursus gratis menanam Bunga Anggrek . Tapi bapak tiba tiba telepon, yayasan Jakarta butuh dana renovasi musholla wakaf Almh.Ibu.

Kok pas banget! Kas yayasan Bogor lagi miniiim. Amanatnya pun untuk pendidikan. *Binuuun.
Terus putar otak sambil menanti bantuan Allah entah lewat apa dan berbentuk apa?

Pada ahirnya dapet  "Rejeki Ide simple" , bapak ringan ... saya ringan. Bapak terbantu, amanah terjaga.
Semoga renov lancar. Musholla  di bantaran sungai itu bisa dimakmurkan pengajian anak-anak  dhuafa,  setelah  kurleb 6 atau 7 tahun  jagoan kampung menyerobot  jadi rumah tinggal, paska musibah kebakaran.

Beberes rumah dan ke ATM kelar. Matahari sudah tinggi, tapi tetap ke Kebun Raya. Ciaaan deh, panggung sudah kosong!
Untungnya rumah kaca angrek tetap terbuka.

Sepi pengunjung malah nyaman. Bebas pilih objek foto, nggak usah nunggu orang lewat baru cetrak cetrek kamera.
Beneran lhoo... Serasa dapat hadiah spesial dari Pencipta kebun ini!
Nikmati sendirian sisa hujan, dingin, daun dan batu  basah, pakis menjuntai di pohon tua, gemuruh deras sungai Ciliwung, kicau burung, kabut di kelok jalan, semua cantik segar! Kembalikan ingatan ke jalan setapak kaki gunung Gede-Pangrango.







Lempar tatap haru dengan menyebut nama kekasih. Seruput perlahan kehangatan pesanNya.
Nikmatnya memeluk diri sendiri, menghiburnya. Nggak ada yang menuntutnya  sempurna. Setiap kesulitan yang ditemui akan menjadi sumber bahagia nggak berbatas. Pahami takdir sebagai program satu satunya yang sempurna dan dirancang husus.


Today...
I choose to feel life
Not to deny my humanity, but embrace it