Saturday, 1 July 2017

Belajar Dari Lesley




Suaranya berat tapi masih kedengaran suara wanitanya.
Kalau lihat langsung baru tahu pemilik suara bariton itu berwajah cantik secantik gerak tangannya yang feminin.

Keteduhannya berubah riuh waktu dia kupas satu satu bagaimana mempesonanya "Pria" dambaan yang jadi pusat perhatiannya bertahun. Kedalaman cintanya ia simpan di tiap huruf. Berharap pembaca turut menikmati tetesan sejuk prilakunya.

Lesley Hazelton membuat saya malu, banyak menulis tapi bukan tentang manusia mulia itu.
Banyak beshalawat, banyak rindu, tapi tak berdakwah bil hal.

Kesantunan dalam keberagaman inti paparan Lesley di satu tayangan yang nggak sengaja saya temukan.
Saya jadi berfikir...

Banyak seruan berbagai LSM untuk menjaga kelestarian alam
Sebetulnya santun pada alam dimulai dari santun pada diri sendiri dan orang lain. Mampu jaga hati manusia dalam  keberagamannya
Perkataan manfaat  mengakar harus diusahakan, agar tambah lagi satu pohon di saat perusak merajalela.

Semakin cerdas manusia, semakin sadar tugas di bumi adalah menjaga perjanjian dengan Rabb.
Ilmu yang di dapat jangan jadi tembok kegagahan.

Kelembutan makin penting di zaman fitnah seperti ini, di samping sikap tegas keras menahan laju fitnah.
Berani tolak berita  orang fasik. penyubur kebencian dan kebodohan.


Lesley  banyak membaca quran, namun menyebut dirinya sebagai out sider. Ia melancong meraup pengalaman terindah saja.
Jadi jelas kan ya, bahwa di atas segala kemuliaan dan kehebatan, tetap yang namanya "Hidayah" is number one! Semoga akan turun untuknya, someday...

Orang yang paling merasa aman, seperti pisau dalam sarung. Bentuknya bagus tapi  nggak terpakai, percuma! Mending pisau jelek  yang tajam.
Pisau perlu batu asah, dan alat asah manusia adalah manusia lainnya.


Harus lebih banyak lagi bersyukur atas hadiah "Ddiin" dari Allah.
Tanda syukur kita adalah siap menerima buram sebagaimana kesiapan menerima cerah.
Muslim tengah tersudut. Sulit membela diri.
Anggap saja kita sedang menjaga sebuah tempat buruk  berisi kekayaan.
Harus mampu menjawab dengan lembut agar pengunjung mau memasukinya.

Lihat, mukjizat perkataan Rasul dan kaum salaf telah terpampang jelas sekarang ini!


Akan datang satu masa
Aku hawatir dengan masa itu.

Keyakinan tinggal dalam fikiran
Keimanan tak berbekas dalam perbuatan
Banyak orang baik tapi tak berakal
Berakal tapi tak beriman

Ahli maksiat tapi rendah hati
Berlisan bijak tapi tak memberi teladan
Pelacur jadi figur

Berilmu tapi tak faham 
Faham tapi tak menjalankan 
Pintar tapi membodohi 
Badoh tapi tak tahu diri

Beragama tapi tak berahlak
Berahlak tapi tak bertuhan








Bagaimana Ramadhanku-mu?



Image result for ramadhan pergi



Beberapa jam lagi, ramadhan melambai.
Padatkan waktu dengan permohonan ampun
Dalamkan makna doa.


Ini lapar ke 29 di  bulan kariim
Semoga terbayar tunai saat antri di yaumil masyhar tanpa aqua, apalagi lontong isi!

Lapar orang lain adalah tawaran beramal.
Makin menghargai setiap bulir nasi.
Tak sekedar pelengkap yang dihadapi dengan ngobrol, canda  tawa
Pengingat syukur lewat keringat petani, penggiling, sopir, dari berbagai penjuru sampai ketemu di satu piring


Nikmati gembira berbuka akhir
Mohon diizinkan muncul kembali dengan kelipatan tinggi
Saat menatap wajahNya

Esok tak ada tarawih
Surat al qadr penghias 10 malam, lenyap dari menara
Kita bawa saja ke bilik rumah
toh cahayanya ada di mana-mana
tergantung besarnya kapasitas jangkauan hati.
Sinyal ada terus, mudah kita bagi ke tetangga dan saudara


Pahit manis ramadhan, hikmah sepanjang tahun.
Rabb kita beri pesan husus untuk setiap diri
Asal mau teliti

Tahun ini ramadhan terasa pendek yaa
Kata orang sibuk

Jika ada kenikmatan lain selian ibadah
Jika hal tidak penting masih memenuhi rongga mulut
Jika belum berani berkorban menolak kenikmatan sesaat
Ramadhan terbang seperti kapas tertiup badai

Bagaimana ramadhanku-mu?