Thursday, 7 September 2017

Kembali PadaMU


Lama ya, nggak nulis-nulis. Padahal membludak bahan tulisan. Misalnya kegiatan sosial  setelah ramadhan. Banyak ide-ide baru buat mengambil "Hati" Allah secara sembunyi atau terang-terangan, dengan waktu yang sedikit tapi meraih keuntungan besar. Si ide  tentu nggak timbul sendiri.
Teman, saudara, tetangga dan kejadian selintas di jalan semua bisa jadi sumber.

Tapi ya gitu, begitu mau nulis, mata kriyep-kriyep atau lain hal. Sudah sedia laptop sementara mesin cuci muter, angin sedap masuk dari jendela, tapi pak suami ngajak ngobrol.
Pernah juga semangat besar datang. Lumayan 1/4 halaman terisi, ehhh!! entah keypad mana yang kesenggol, byaaarr !! Tulisan hilang semua. Ngetik kayak pakai sarung tinju.

Hari ini saya coba lagi. Sebab kemarin punya pengalaman mengejutkan. Nggak pernah terbayangkan nasehat Allah datang bertubi. *Speechless

Pagi-pagi sudah siap ke Jakarta dengan perasaan sedih. Adik sepupu bapak meninggal semalam jam 11. Almarhumah banyak mengisi kenangan kanak-kanak saya. Darinya saya kenal dan langsung jatuh cinta pada warung. Pemandangan paling asik kalau datang ke rumahnya lalu ia mengeluarkan uang seringgit ( Dua Setengah Rupiah) dari selipan stagen.
Dia tidak melarang saya melihat kuda tetangganya berguling di abu, boleh nonton TV tetangganya, dll.
Di ahir kisah takdir, saya sangat ingin mengurus jenazahnya, dan Alhamdulillah, Allah izinkan sampai mensholatinya.

Keranda pergi hanya membawa cinta dan doa. Saya harus segera  ke rumah sakit jenguk Tante Leila  yang tengah koma. Tapi belum lagi keluar dari rumah duka, berita datang. 2 Oom saya rumahnya terbakar.

Harus saya saksikan 2 air mata kehilangan  berbeda namun sama menusuk, 2 karunia yang mudah lengket di hati  kalau nggak rajin mengingatkan diri  bahwa cuma "Titipan"
1 RT terbakar, dan api cuma butuh waktu 5 menit untuk melahap 1 rumah. Nggak tega lihat keponakan cuma punya satu baju pramuka yang melekat di badan.

Masih sedikit melamun waktu keluar dari bangunan hitam tanpa atap. Langkahi kayu hitam basah dan pecahan beling.  Tetiba WA kirim 2 berita. Ibu ke 2 saya tertusuk kayu sate hingga harus ke dokter dan Tante Lei meninggal.

Termenung lagi di rumah duka ke 2. Sejam kemudian tetangga almarhumah meninggal juga.
Apa pernah 2 sahabat berkelakar ingin wafat pada hari yang sama? Cuma pertanyaan iseng. Untuk menutupi galau saya waktu menutupi jenazah dengan kain batik, di bawah kain jemari anak almh yang bermata bengkak itu perlahan menggunting baju.
Tempat pemandian di teras masih basah, ada sedikit bunga menempel bekas sahabat. Tak lama, pelayat serentak pindah dari bibir jalan, keranda dan rombongan mau lewat. 2 lubang sedang digali di taman yang sama.

Sibuk sekali malaikat yaa.. Musibah di punggung, sementara kita masih bercanda dengan angan.
Kalau lihat hamparan nisan, mereka dulu pembuat status, pengukir angan, perancang cita, Lalu diputus petugas yang nggak pernah terlibat dengan waktu dan lapar.
Segala sesuatu kembali padaMu...









No comments:

Post a Comment