Thursday, 5 October 2017

Pesan Pak Gendu




Image result for foto pak gendu


Nggak pernah sekali pun membayangkan bakal duduk di tengah pasien penderita gangguan jiwa.
Ini gara gara mendampingi Ibu Iyah instruktur craft yang dipercaya Departemen Sosial untuk membina mereka.

Sebenernya dari rumah sudah deg-degan. Tapi bismillah aja deh!
Toh cuma sehari, dan di sana pasti ada yang mengawasi.

Naik kereta pagi  lewati 20 stasiun, dilanjut 1 kali Grab bike, 2 kali angkot , baru sampai di lokasi panti, Yayasan Galuh, Rawa Lumbu-Kranji.
Di pos gerbang ada penjaga berpakaian lusuh. Itu satpam atau...?

Gerbang besi tinggi terbuka biasa, sepertinya yakin betul penghuni panti nggak bakal kabur.
Sambil tahan perasaan aneh yang tiba tiba muncul, saya terus seberangi lapangan cukup luas menuju aula pelatihan. Lengang,  mungkin habis sarapan mereka kumpul-kumpul di kamar.

Benar juga! Pas tengok ke kanan, terjawab perasaan aneh tadi!
Di sisi tembok tinggi yang saya kira  kosong, ternyata di koridor sempitnya banyak mata kosong menatap gerak saya . Beberapa orang diam dingin, sebagian senyum lebar sambil teriak "Buu, minta rokok!"

Hanya pasien tertentu yang boleh di luar. Mereka masih  bisa terima intruksi dan mau belajar.
Peserta pelatihan 20 orang perempuan dan 6 pria . Kali ini  membuat keset dari limbah. Sebagian sudah cekatan menyelesaikan, sebagian lagi lamban bahkan  meninggalkan pekerjaan begitu saja dan saya yang meneruskan.
Kadang senyum dengar celetukan dan keluhan mereka. Kalau ada yang datang duduk tenang membantu, tandanya dia mau curhat dan ujung ujungnya minta uang 2000 buat beli es. Betapa berharganya si 2000 rupiah yang dipandang sebelah mata kalau tergeletak di meja rumah. Mereka  iri lihat teman sruput minuman dingin dlm plastik atau berjalan pelan bawa kopi panas.
Baru punya duit kalau dijenguk keluarga, dan itu jarang banget!


Asih umur 12 tahun suaranya cempreng, selalu teriak. Dia dijanjikan Bu Iyah sebotol minyak rambut biar rambut tidak lengket lagi. Segera tutup muka waktu saya mau foto. Tapi tetap minta hasilnya.

Ada juga Rinna asal Bogor. Ngakunya dendam pada suami, berkali kali dengan suara pelan minta saya telepon keluarganya.
Desi berkaos orange kulit mukanya manis,  halus, badan bersih. Nggak berhasil merayu saya pinjam hp. Dulu dia pemain band  berjilbab.

"Kenapa dilepas jilbabnya?"
"Ah, jilbab kan universal!" Jawabnya
 Dia tutup obrolan dengan minta rokok. Sementara saya masih mikir, apa maksud jawabannya.

Banyak yang datang curhat, tapi selalu temannya datang mengklaim bahwa  yang curhat tadi berbohong. Kasus sebenarnya bla..bla..bla..
saya sempat terbawa alur cerita. Lupa dengan siapa saya bicara?
Pak Jaja yang tau persis penyebab mereka di situ.

Tetiba 2 orang datang berlari dari arah kantor, sambil teriak, "Horreee! Bulan Desember boleh pulang! Sayang, cuma hayalan!

Sirine makan siang diundur sampai  pengajar selesai makan. Nggak enak juga ditunggu begitu, jadi secepatnya saya santap nasi rames padang yang saya beli sendiri. Setelah itu lihat pemandangan baru! 485 orang berbaris antri makan.
Hanya satu orang yang bertahan tidur di kursi taman sejak pagi.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.
Foto Mutiah Ohorella.

Yayasan dipimpin Pak Jaja sejak ayahnya ( Pak Gendu ) wafat. Almarhum  berani mendirikan yayasan ini karna prihatin banyak penderita di jalanan.
Awalnya cuma 10 orang menempati  bangunan gerdek.
Di tayangan tv pak Gendu sabar ihlas memandikan bahkan menyuapi.

Sumbangan sosial rutin mau pun kagetan sudah merubah gubuk jadi gedung megah, bersih dan teratur. Ada nggak teganya juga sih,  kalau lihat kamar luas full jeruji. Tapi itu pilihan terbaik menghindari kejadian buruk.




Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.



Begitulah, dari kesibukan dapur, musholla kosong, aduan pasien ke Pak Jaja tentang hal yang tidak pantas terjadi di kamar mandi , tatapan kosong di bale-bale rumah pengurus, sampai cekikikan 2 sejoli  di seberang meja yang pamer aurat, dan macam macam lagi.

Pemantik rasa syukur ada di mana-mana.
Perangkat akal budi yang sudah dibekali Allah adalah kenikmatan besar.
Jadi pendengar yang baik , berfikir sebelum berucap, kata-kata penuh manfaat, malu meminta, punya ukuran suara, bicara jujur, semuanya tanda sehat jiwa.

Di antara rentetan doa, selalu  minta Allah baguskan ahlak saya. Mohon didekatkan dengan orang-orang saleh. Saya lupa, Allah lebih tahu bagaimana cara menasehati saya!

Lewat seminggu, masih saja terasa aura panti. Sebelum pulang sempat lihat  Ambulance parkir tanda semua pasien harus disuntik lalu bagi-bagi obat. Tanpa itu, suasana bakal berisik.
1 mobil lain milik 1 keluarga. Mereka menuju kantor. Pak Jaja beritahu,  pemuda berwajah segar, kulit bersih, kontras dengan jaket parasut biru tua dan tas ransel hitam, adalah pasien baru.

Saya berharap dia tidak bercampur dengan penderita berat.

Banyak lagi tempat yang bisa kita kunjungi, tempat kita mencoba  membahagiakan orang lain, seperti pesan Pak Gendu...

"Bahagiakan orang lain, kalau ingin diri kita bahagia"


Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.












No comments:

Post a Comment