Saturday, 18 November 2017

Kelebihan Cahaya Alami


Cahaya masuk dari jendela menimpa gelas  favorite.
Saya termasuk pecinta cahaya natural ketimbang menggunakann lampu meja atau lampu LED. Apalagi lampu continuous  seharga 5,75 juta, nggak deh! Kecuali dapet gratis  :)

Fotographer paling keren bagi saya, hasil fotonya menggugah perasaan, pemandangan dalam negeri tapi seperti di negeri manaaa gitu, cermat pilih  moment dan tentu gambar biasa jadi luar biar karna kecerdikan menggunakan cahaya.



Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.



Foto Mutiah Ohorella.


Kelebihan cahaya natural, warna lebih tajam, anti ribed, dan warna kontras.
Tantangannya, harus peka lihat bagaimana cahaya berinteraksi dengan elemen-elemen dalam frame.
Cahayanya membuat objek mudah lihat atau malah mengaburkan, lembut atau pecah.

Kelemahannya, jatuh cahaya cepat berubah saat matahari beringsut. Tinggalkan saya yang menatap pasrah. Posisi objek yang tadinya bikin saya jatuh cinta dan bersegera ambil kamera, seketika nggak berarti apa apa lagi.


Monday, 6 November 2017

Tentang Rahasia


Lovely key


Seorang murid datang menghampiri Rasulullah lalu bertanya "Aku punya satu rahasia memalukan saat berfikir tentang Allah, sejak itu aku merasa berdosa terus menerus. Apakah Allah mau mengampuniku?"

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Rasul

"Aku tak akan pernah sanggup mengataknnya"

"Allah maha tahu dan pengampun, bila saat itu engkau tidak menyukainya"



Tentang rahasia, Presiden RI pertama pernah menulis...

Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin.
Menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.
(Bung Karno, 1933)


Adik mertua saya badannya kurus kecil usia jelang 80.  Tapi tenaganya luar biasa! Ia masih kuat  kerja berat. Pernah dari pagi sampai sore menyemen dan membaguskan makam kakaknya tanpa sarapan. Makan siang sudah terbiasa minus nasi. Hanya beberapa batang buncis rebus dan tempe goreng.

Saat kami ketemu ia beritahu rahasianya, ia kerap minta pada Allah dengan polos.
"Ya Allah, jangan sampai saya jadi hamba yang senang makan"
Doa yang nggak lazim, kan?


Masih soal rahasia...
Sahabat saya bertemu dengan teman akrabnya yang lama terpisah. Ia abadikan pertemuan itu di instagram bertuliskan...

Teman sejak TK hingga kini. 
Semua aib saya tersimpan olehnya.
Kami bertemu sejenak di Bandara, tertawa sembunyikan air mata
Sahabat itu cerminan jiwa



Mengapa sejak kemarin saya ingin menulis tentang rahasia?
Jawabnya, rahasia.... :)





Thursday, 2 November 2017

Wajah Kemayoran Kini



Foto Mutiah Ohorella.



"Mbak, tumben motret-motret bangunan"  Koment teman FB .
"Di mana saya ada, di situ saya motret,Mbak" Jawab saya.

Kebetulan kemarin  saya dan pak suami ke apertemen kakak ipar di Kemayoran. Wilayah yang menyimpan banyak  kenangan kanak kanak.
Kami susuri  jalan Garuda dan Jalan Haji Ung, nama ayah aktor Benyamin yang jadi tokoh di kampung itu. Di sanalah suami saya lahir.

Dulu, bandara Kemayoran kebanggaan berdiri tegak di sini. Sejak oek..oek sampai tua begini saya baru tahu kalau nama Kemayoran asalnya dari tuan tanah orang Belanda berpangkat Mayor. Ada juga yang bilang karna di situ ada perumahan husus mayor.

Cukup beruntung sempat nikmati 2x penerbangan sebelum pindah ke Bandara Soekarno-Hatta.
Pertama  ke Pulau Dabo ikut bapak ceramah di Perusahaan timah, dan terakhir perjalanan ke Surabaya-Banjarmasin yang jadi pangkal pertemuan 2 hati *Ehem!
Jelang pesawat landing, kelihatan jelas atap rumah seperti kotak korek api jingga. Makin lama makin dekat sampai kelihatan jemuran.
Peraturan bandara pun masih longgar. Petugas keamanan cuma beberapa orang, dan penjual koran diizinkan mangkal dekat parkiran. Paling senang kalau lihat pilot gagah yang biasanya jalan cepat mau berhenti sebentar  beli koran/majalah.


Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.


Ingat bagaimana susahnya tidur malam, karna nggak sabar tunggu subuh. Antar saudara ke bandara itu sesuatu banget! jangankan lihat pesawat, baru dengar deru mesinnya saja sudah bikin kaki gatal ingin cepat keluar mobil. Lalu jejakkan kaki di keset sabut tebal, menanti pintu kaca otomatis terbuka. Hmm...  Udara segar harum menyeruak dari dalam

Kaki panjang Pramugari berseragam oranye ketat, topi silinder dengan  syal warna senada.
Saling lempar guyon tapi tawa tetap sopan.
Sebagian lebih dulu masuk pesawat sebelum penumpang melambaikan tangannya di anak tangga.
Kapan lagi yaa, bisa dadah-dadah lepas kepergian sampai anak tangga terlipat masuk perut pesawat?

Saya nggak sedih ketika pesawat besar itu menelan roda-rodanya. Sebab ada ritual berikutnya yang saya nanti. Nikmati aquarium besar isi aneka bentuk ikan hias laut, dan minum susu coklat di balkon pengantar sambil saksikan pesawat mengecil di lipatan awan.

Image result for bandara kemayoran dulu dan sekarang
                                                               13794867131234745958


Wajah Kemayoran  kini lebih cantik, hijau, teratur dan bersih. Hanya kurang ramah dengan berbarisnya apartemen, lapangan golf, dan hotel. Penjagaan ketat di sana sini.
Bekas landas pacu pesawat jadi jalan raya, mungkin ini jalan aspal terkuat.

Apertemen yang kami tuju ada di antara 49 apartemen yang dirancang dengan konsep mix used. Berpadunya green natural, pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, dan leisure.
Paradigma hunian vertikal yang bukan hunian semata, tapi juga untuk investasi jangka panjang.
Harga minimal 270 juta rupiah untuk mendapatkan ruang studio ukuran 22,14 meter persegi! Seluas kamar tidur saya.

Rencana ke depan akan dibangun wisma atlet dan 50 rusunami dengan 7200 unit.
Entah apa lagi rencana pemerintah yang bakalan bikin tambah pangling.
Semoga masih disisakan sedikiiit saja kenangan yang tersisa.
Warung Ketan Susu di gang sempit Jalan Garuda, warung tenda nasi padang SALERO yang jam 10 pagi sudah habis rendangnya, dan bangunan tua kantor Majalah favoit saya, Gadis dan Femina.

Yang terpenting peninggalan bandara  internasional pertama milik bangsa sejak tahun 1929 ini dirawat dengan baik lalu jadikan obyek wisata sejarah.  Menara ATC (Air Trafic Control) masih ada.  ATC pertama di Asia itu pernah mengawasi frekwensi 100.000 penerbangan pertahunnya meski sudah berbagi dengan Bandara Halim. Kesibukan itu membuat pemerintah ORBA membangun Bandara Soekarno-Hatta.


Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.