Thursday, 2 November 2017

Wajah Kemayoran Kini



Foto Mutiah Ohorella.



"Mbak, tumben motret-motret bangunan"  Koment teman FB .
"Di mana saya ada, di situ saya motret,Mbak" Jawab saya.

Kebetulan kemarin  saya dan pak suami ke apertemen kakak ipar di Kemayoran. Wilayah yang menyimpan banyak  kenangan kanak kanak.
Kami susuri  jalan Garuda dan Jalan Haji Ung, nama ayah aktor Benyamin yang jadi tokoh di kampung itu. Di sanalah suami saya lahir.

Dulu, bandara Kemayoran kebanggaan berdiri tegak di sini. Sejak oek..oek sampai tua begini saya baru tahu kalau nama Kemayoran asalnya dari tuan tanah orang Belanda berpangkat Mayor. Ada juga yang bilang karna di situ ada perumahan husus mayor.

Cukup beruntung sempat nikmati 2x penerbangan sebelum pindah ke Bandara Soekarno-Hatta.
Pertama  ke Pulau Dabo ikut bapak ceramah di Perusahaan timah, dan terakhir perjalanan ke Surabaya-Banjarmasin yang jadi pangkal pertemuan 2 hati *Ehem!
Jelang pesawat landing, kelihatan jelas atap rumah seperti kotak korek api jingga. Makin lama makin dekat sampai kelihatan jemuran.
Peraturan bandara pun masih longgar. Petugas keamanan cuma beberapa orang, dan penjual koran diizinkan mangkal dekat parkiran. Paling senang kalau lihat pilot gagah yang biasanya jalan cepat mau berhenti sebentar  beli koran/majalah.


Foto Mutiah Ohorella.


Foto Mutiah Ohorella.


Ingat bagaimana susahnya tidur malam, karna nggak sabar tunggu subuh. Antar saudara ke bandara itu sesuatu banget! jangankan lihat pesawat, baru dengar deru mesinnya saja sudah bikin kaki gatal ingin cepat keluar mobil. Lalu jejakkan kaki di keset sabut tebal, menanti pintu kaca otomatis terbuka. Hmm...  Udara segar harum menyeruak dari dalam

Kaki panjang Pramugari berseragam oranye ketat, topi silinder dengan  syal warna senada.
Saling lempar guyon tapi tawa tetap sopan.
Sebagian lebih dulu masuk pesawat sebelum penumpang melambaikan tangannya di anak tangga.
Kapan lagi yaa, bisa dadah-dadah lepas kepergian sampai anak tangga terlipat masuk perut pesawat?

Saya nggak sedih ketika pesawat besar itu menelan roda-rodanya. Sebab ada ritual berikutnya yang saya nanti. Nikmati aquarium besar isi aneka bentuk ikan hias laut, dan minum susu coklat di balkon pengantar sambil saksikan pesawat mengecil di lipatan awan.

Image result for bandara kemayoran dulu dan sekarang
                                                               13794867131234745958


Wajah Kemayoran  kini lebih cantik, hijau, teratur dan bersih. Hanya kurang ramah dengan berbarisnya apartemen, lapangan golf, dan hotel. Penjagaan ketat di sana sini.
Bekas landas pacu pesawat jadi jalan raya, mungkin ini jalan aspal terkuat.

Apertemen yang kami tuju ada di antara 49 apartemen yang dirancang dengan konsep mix used. Berpadunya green natural, pusat perbelanjaan, sarana pendidikan, dan leisure.
Paradigma hunian vertikal yang bukan hunian semata, tapi juga untuk investasi jangka panjang.
Harga minimal 270 juta rupiah untuk mendapatkan ruang studio ukuran 22,14 meter persegi! Seluas kamar tidur saya.

Rencana ke depan akan dibangun wisma atlet dan 50 rusunami dengan 7200 unit.
Entah apa lagi rencana pemerintah yang bakalan bikin tambah pangling.
Semoga masih disisakan sedikiiit saja kenangan yang tersisa.
Warung Ketan Susu di gang sempit Jalan Garuda, warung tenda nasi padang SALERO yang jam 10 pagi sudah habis rendangnya, dan bangunan tua kantor Majalah favoit saya, Gadis dan Femina.

Yang terpenting peninggalan bandara  internasional pertama milik bangsa sejak tahun 1929 ini dirawat dengan baik lalu jadikan obyek wisata sejarah.  Menara ATC (Air Trafic Control) masih ada.  ATC pertama di Asia itu pernah mengawasi frekwensi 100.000 penerbangan pertahunnya meski sudah berbagi dengan Bandara Halim. Kesibukan itu membuat pemerintah ORBA membangun Bandara Soekarno-Hatta.


Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

Foto Mutiah Ohorella.

2 comments:

  1. Di mana saya ada, di situ saya motret, hehe... kok mirip sama saya :)
    Kemayoran sekarang semakin luar biasa ya, Mbak.

    ReplyDelete
  2. senangnya di Kemayoran sekarang tuh lihat hutan kota, katanya banyak tanaman langka di sana...
    tapi aku baru ketemu buni aja sih

    ReplyDelete