Saturday, 16 December 2017

Menilai Dengan Kaca Mata Sendiri



Satu siang saya sudah berdiri di halaman parkir Chitos. Mall besar yang punya deretan cafe 2 lantai. Mudah memilih makanan mau pun interior sesuai selera.
Teman-teman sepakat pilih Kafe Betawi. Lampu remangnya bikin adem tapi  cukup menerangi daftar menu kerinduan, jajanan langka.
Saya pilih Rujak Mie Juhi!

Sambil tunggu hidangan apa salahnya rapat dimulai?
Tapi teman-teman kelihatan lebih senang ngobrol dulu. Kesian juga sih, mereka benar-benar baru lepas dari penat tugas kantor.

Di tengah ngobrol dan tawa asik, pesanan  keluar, ngebul-ngebul !
Mie Juhi kayaknya bakal tandas cepat saya sikat.  Saya lirik soto dan lain lain pesanan 5 teman, alah mak, harumnyaaaa... Ni musti pada semangat makan.


Kira kira setengah piring  makanan  pindah ke perut, kertas-kertas sudah banyak di meja.
Dokument rencana, pengumpulan dana hingga pembangunan MCK dan renovasi aula Pesantren dhuafa pemulung Bantar Gebang, plus laporan pertanggung jawaban bendahara.

Proyek selanjutnya adalah pemberdayaan ibu-ibu dhuafa bantaran kali Klender.
Dana awal tersedia untuk mereka belajar membuat keset, menuju usaha mandiri.

Rasanya nggak pecaya, mereka yang super sibuk di kantor ini mampu merampungkan proyek aherat ini sesuai jadwal. Lihat angka-angka rupiah seperti memperjelas  bagaimana turunnya pertolongan Allah lewat tangan-tangan yang kesehariannya di ruang AC gedung pencakar langit.

Makanan minuman habis, suasana santai ringan menjeda.
Kami tanda tangani semua lembar penting dilanjut penyerahan sisa dana untuk proyek ahirat selanjutnya. Tepuk tangan penyemangat dan jepretan foto untuk dokument berjalan singkat.
Tetiba semua bisu, tenggelam dalam doa. Bersyukur penuh harap semoga pertanggung jawaban di hadapan Allah akan ringan seperti hari ini.

Waktu Asar turun... Musholla sejuk harum cuma beberapa meter dari kami.
Saya simpan wajah-wajah segar wudhu mereka, begitu ihlas dan tenang.
Saya simpan juga kehangatan penuh optimis dalam jabat tangan sebelum kami masuki pintu pintu tol berlainan arah.

Di parkiran Citos alias Cilandak Town Square, nggak ada lagi endapan tanya ... "Kenapa sih, rapat-rapat harus di Cafe? Bicarakan apa? Biar keren dengan makanan mahal?

Kesibukan kerja, tanggung jawab, kejar waktu, dan lepas penat, perlu strategi untuk membuatnya jadi mudah. Bayangkan mereka datang dari 5 arah mata angin kota Jakarta pada jam macet, lalu menunggu di rumah salah seorang teman di pinggiran Jakarta. Ampuun deh!


Lihat plang hijau bertulis BOGOR, rasanya nggak lama lagi saya sampai di rumah.
Perasaan lega, dan berdoa buat sahabat saya, yang pasti marah kalau disebut namanya. Apalagi kedudukannya di kantor. Hehe, 
Terimakasih, jazakallah khairaan,  sudah mentraktir makan siang.

** Jangan menilai dengan kaca mata sendiri.



















4 comments:

  1. Saya suka tulisan ini, mengalir apa adanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih,Mbak Een. Seneng sudah hadir di sini :)

      Delete
  2. Mi Juhi, aku suka denger mba tapi blum pernah makan, hehe

    ReplyDelete
  3. Juhi itu toppingnya,Mbak. Terbuat dari cumi kering asin, disuir-suir. Kapan yaa.. kita jalan lalu saya traktir mbak Yanti. Hehe

    ReplyDelete